Tampilkan postingan dengan label renungan iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan iman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Agustus 2010

Rahmat di Bulan Nan Mulia


Siapa yang tak senang jika
kedatangan tamu istimewa?
Pasti sebagian kita
mempersiapkan dengan baik
untuk menyambut tamu yang
dinanti-nanti bahkan jauh-jauh
hari sebelumnya.
Itulah bulan Ramadhan, bulan
yang mulia. Kenapa bisa
dikatakan istimewa? Ya, ia
istimewa karena saat itu
pintu-pintu ampunan dan
rahmat dibuka lebar-lebar
sedangkan pintu-pintu neraka
ditutup rapat dan setan-setan
dibelenggu.
Bagaimana tidak, di bulan
yang penuh berkah ini seluruh
muslim/ah di seluruh dunia
diwajibkan berpuasa menahan
rasa lapar, haus, pun hawa
nafsu yang paling sulit
dihadapi. Mulai dari menjaga
lisan dalam berucap, menjaga
mata dalam melihat, menahan
amarah sampai menahan
nafsu-nafsu lain yang selalu
kita hadapi dalam mengarungi
hidup ini.
Hai orang-orang yang
beriman, diwajibkan atas
kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu agar kamu
bertakwa (QS 2 : 183)
Sudah lima kali aku melewati
Ramadhan di Negeri Gajah
Putih. Seperti tahun-tahun
sebelumnya, tak ada tanda-
tanda bahwa bulan itu bulan
Ramadhan di sekitar tempat
tinggal kami.
Walaupun Islam menjadi
agama terbesar kedua di
Thailand setelah Budha,
namun spanduk atau umbul-
umbul menyambut bulan
Ramadhan tak pernah
ditemukan di pinggir-pinggir
jalan atau di mall-mall.
Suasana Ramadhan hanya ada
di sekitar mesjid-mesjid yang
jumlahnya bisa dihitung oleh
jari.
Siang itu, panas kota Bangkok
terasa sangat terik. Aneka
jajanan sepanjang jalan
menuju rumah kami utamanya
minuman dingin terlihat
sangat menggiurkan.
Ada kelapa muda yang
dikemas cantik, jus jeruk yang
menyegarkan, dan aneka
macam sirup warna-warni
serta es krim yang dibalut roti
dengan topping coklat,
menambah berat ujian kami
menjalankan puasa di panas
yang menyengat. Belum lagi
cara orang Thai yang senang
berbusana sekenanya di
musim panas saat itu
membuat kami harus ekstra
hati-hati menjaga pandangan
mata. Semoga ujian-ujian ini
menambah besar pahala
kami, aamiin.
Dari kita untuk kita, mungkin
itulah istilah yang tepat bagi
kami sebagai kaum minoritas
dan para perantau. Agar lebih
bersemangat mengisi bulan
Ramadhan, kami disibukkan
dengan berbagai kegiatan.
Mulai dari menyiapkan sahur
dini hari di rumah masing-
masing, disambung pagi hari
kaum ibu melakukan taddarus
bersama dengan target
khatam Qur ’an, dilanjutkan
dengan sore hari menyiapkan
buka puasa di rumah sampai
sholat tarawih di mesjid
kesayangan kami di KBRI pada
malam harinya.
Selain itu setiap Sabtu dan
Minggu diisi dengan buka
bersama untuk seluruh warga
Indonesia yang ada di
Thailand. Para ibu siap bahu
membahu menyediakan
hidangan berbuka puasa.
Saat-saat seperti itu
menambah gairah ibadah
kami sehingga tak terasa
sebulan berlalu begitu cepat
dan tibalah saatnya
menyambut hari kemenangan,
Idul Fitri.
Bicara soal puasa, aku jadi
teringat cerita seorang
sahabat yang lupa mematikan
kompor di rumahnya. Kala itu,
saat tiba di rumah sehabis
bertaddarus, sahabatku yang
juga seorang ibu rumah
tangga memanaskan semur
daging untuk menu berbuka
mereka sekeluarga magrib
nanti.
Sambil menunggu masakan
menjadi hangat, sahabatku
duduk menyimak berita
Indonesia melalui saluran
antena parabola yang tersedia
di apartemennya. Tak semua
apartemen menyediakan
saluran Indonesia. Berita dari
tanah air menjadi dambaan
kami para perantau. Tak
terasa, panas yang menyengat
saat berpuasa membuatnya
haus dan letih….ia pun
tertidur di bangku sofa.
Semilir asap harum semur
daging yang terbawa angin
menyadarkannya dari tidur.
Wangi sekali, siapa yang
masak ya? Pikir temanku.
Seketika sahabatku melompat
dari kursinya tersadar bahwa
saat itu ia sedang
menghangatkan semur daging
untuk berbuka.
Tak tahu sudah berapa lama
ia tertidur, segera iapun
berlari menuju dapur. Wah,
gosong sudah menu andalan
berbuka! Batinnya berseru. Di
luar dugaan, ternyata
Subhanalloh…..semur daging
itu masih utuh dan masih
berair!
Sahabatku terheran-heran,
rasanya tak mungkin semur
itu masih utuh. Dalam
benaknya terbayang daging
yang menghitam disertai
kepulan asap memenuhi
ruangan diiringi bunyi alarm
kebakaran yang
membisingkan seisi
apartemen.
Namun yang dijumpainya
sungguh bagaikan mimpi. Tak
ada daging gosong, justru
semurnya bertambah kental
dan dagingnya bertambah
empuk sekaligus ia telah
mendapatkan nikmat tidur
yang tiada disangka-sangka
sebelumnya.
Semua ini terjadi karena
pertolongan dan perlindungan
dari Zat Yang Maha
Penyayang. Maha Suci ALLOH
yang telah menjaga
sahabatku, keluarganya,
bahkan seisi apartemennya
dari musibah kebakaran yang
dikhawatirkannya.
Sesungguhnya rahmat ALLOH
amat dekat kepada orang-
orang yang berbuat baik (QS
7 : 56)
Inilah salah satu rahmat yang
tercurah kepada siapapun
yang dikendaki-NYA di bulan
penuh berkah. Mungkin jika
kejadian itu bukan di bulan
yang penuh berkah, akan lain
lagi ceritanya.
Rupanya sahabatku yang
setiap memasak selalu
memutar kompor listrik ke
titik 6 (terpanas), siang itu
tanpa sadar ia memutar
tombol kompor listrik ke titik
1 (terendah).
Sahabatku, terima kasih telah
berbagi cerita. Semoga kisah
hikmah ini dapat menambah
ketakwaan kita kepada Illahi
Rabbi akan berkah di bulan
nan mulia dan berharap kita
masih diberi kesempatan
meraih kemenangan yang
hakiki di hari yang fitri,
inshaALLOH. Wallohu a ’lam
bishshowaab.

Selasa, 10 Agustus 2010

Berbenah Diri Menyambut Bulan Ramadhan


Allah Ta’ala telah
mengutamakan sebagian
waktu (zaman) di atas
sebagian lainnya,
sebagaimana Dia
mengutamakan sebagian
manusia di atas sebagian
lainnya dan sebagian tempat
di atas tempat lainnya.
Allah Ta’ala berfirman,
َكُّبَرَو ُقُلْخَي اَم ُءاَشَي
ُراَتْخَيَو اَم َناَك ُمُهَل
ُةَرَيِخْلا
“Dan Rabbmu menciptakan
apa yang Dia kehendaki dan
memilihnya, sekali-kali tidak
ada pilihan bagi mereka ” (QS
al-Qashash:68).
Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di
ketika menafsirkan ayat di
atas, beliau berkata, “(Ayat
ini menjelaskan)
menyeluruhnya ciptaan Allah
bagi seluruh makhluk-Nya,
berlakunya kehendak-Nya
bagi semua ciptaan-Nya, dan
kemahaesaan-Nya dalam
memilih dan
mengistimewakan apa (yang
dikehendaki-Nya), baik itu
manusia, waktu (jaman)
maupun tempat ”[1].
Termasuk dalam hal ini
adalah bulan Ramadhan yang
Allah Ta ’ala utamakan dan
istimewakan dibanding bulan-
bulan lainnya, sehingga dipilih-
Nya sebagai waktu
dilaksanakannya kewajiban
berpuasa yang merupakan
salah satu rukun Islam.
Sungguh Allah Ta’ala
memuliakan bulan yang penuh
berkah ini dan menjadikannya
sebagai salah satu musim
besar untuk menggapai
kemuliaan di akhirat kelak,
yang merupakan kesempatan
bagi hamba-hamba Allah
Ta ’ala yang bertakwa untuk
berlomba-lomba dalam
melaksanakan ketaatan dan
mendekatkan diri kepada-Nya
[2].
Bagaimana Seorang Muslim
Menyambut Bulan Ramadhan?
Bulan Ramadhan yang penuh
kemuliaan dan keberkahan,
padanya dilipatgandakan
amal-amal kebaikan,
disyariatkan amal-amal ibadah
yang agung, di buka pintu-
pintu surga dan di tutup pintu-
pintu neraka [3].
Oleh karena itu, bulan ini
merupakan kesempatan
berharga yang ditunggu-
tunggu oleh orang-orang yang
beriman kepada Allah Ta ’ala
dan ingin meraih ridha-Nya.
Dan karena agungnya
keutamaan bulan suci ini,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam selalu
menyampaikan kabar gembira
kepada para sahabat
radhiyallahu ‘anhum akan
kedatangan bulan yang penuh
berkah ini [4].
Sahabat yang mulia, Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu
berkata, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, menyampaikan
kabar gembira kepada para
sahabatnya, “Telah datang
bulan Ramadhan yang penuh
keberkahan, Allah
mewajibkan kalian berpuasa
padanya, pintu-pintu surga di
buka pada bulan itu, pintu-
pintu neraka di tutup, dan
para setan dibelenggu. Pada
bulan itu terdapat malam
(kemuliaan/lailatul qadr) yang
lebih baik dari seribu bulan,
barangsiapa yang terhalangi
(untuk mendapatkan)
kebaikan malam itu maka
sungguh dia telah dihalangi
(dari keutamaan yang
agung )”[5].
Imam Ibnu Rajab, ketika
mengomentari hadits ini,
beliau berkata, “Bagaimana
mungkin orang yang beriman
tidak gembira dengan
dibukanya pintu-pintu surga?
Bagaimana mungkin orang
yang pernah berbuat dosa
(dan ingin bertobat serta
kembali kepada Allah Ta’ala)
tidak gembira dengan
ditutupnya pintu-pintu neraka?
Dan bagaimana mungkin
orang yang berakal tidak
gembira ketika para setan
dibelenggu ?”[6].
Dulunya, para ulama salaf
jauh-jauh hari sebelum
datangnya bulan Ramadhan
berdoa dengan sungguh-
sungguh kepada Allah Ta ’ala
agar mereka mencapai bulan
yang mulia ini, karena
mencapai bulan ini merupakan
nikmat yang besar bagi orang-
orang yang dianugerahi taufik
oleh Alah Ta ’ala. Mu’alla bin
al-Fadhl berkata, “Dulunya
(para salaf) berdoa kepada
Allah Ta ’ala (selama) enam
bulan agar Allah
mempertemukan mereka
dengan bulan Ramadhan,
kemudian mereka berdoa
kepada-Nya (selama) enam
bulan (berikutnya) agar Dia
menerima (amal-amal shaleh)
yang mereka (kerjakan )”[7].
Maka hendaknya seorang
muslim mengambil teladan
dari para ulama salaf dalam
menyambut datangnya bulan
Ramadhan, dengan
bersungguh-sungguh berdoa
dan mempersiapkan diri untuk
mendulang pahala kebaikan,
pengampunan serta keridhaan
dari Allah Ta ’ala, agar di
akhirat kelak mereka akan
merasakan kebahagiaan dan
kegembiraan besar ketika
bertemu Allah Ta ’ala dan
mendapatkan ganjaran yang
sempurna dari amal kebaikan
mereka. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Orang yang
berpuasa akan merasakan dua
kegembiraan (besar):
kegembiraan ketika berbuka
puasa dan kegembiraan ketika
dia bertemu Allah ”[8].
Tentu saja persiapan diri yang
dimaksud di sini bukanlah
dengan memborong berbagai
macam makanan dan
minuman lezat di pasar untuk
persiapan makan sahur dan
balas dendam ketika berbuka
puasa. Juga bukan dengan
mengikuti berbagai program
acara Televisi yang lebih
banyak merusak dan
melalaikan manusia dari
mengingat Allah Ta’ala dari
pada manfaat yang
diharapkan, itupun kalau ada
manfaatnya.
Tapi persiapan yang dimaksud
di sini adalah mempersiapkan
diri lahir dan batin untuk
melaksanakan ibadah puasa
dan ibadah-ibadah agung
lainnya di bulan Ramadhan
dengan sebaik-sebaiknya,
yaitu dengan hati yang ikhlas
dan praktek ibadah yang
sesuai dengan petunjuk dan
sunnah Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam. Karena
balasan kebaikan/keutamaan
dari semua amal shaleh yang
dikerjakan manusia, sempurna
atau tidaknya, tergantung dari
sempurna atau kurangnya
keikhlasannya dan jauh atau
dekatnya praktek amal
tersebut dari petunjuk Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
[9].
Hal ini diisyaratkan dalam
sabda Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam, “Sungguh
seorang hamba benar-benar
melaksanakan shalat, tapi
tidak dituliskan baginya dari
(pahala kebaikan) shalat
tersebut kecuali
sepersepuluhnya,
sepersembilannya,
seperdelapannya,
sepertujuhnya, seperenamnya,
seperlimanya, seperempatnya,
sepertiganya, atau
seperduanya ”[10].
Juga dalam hadits lain tentang
puasa, Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam bersabda,
“Terkadang orang yang
berpuasa tidak mendapatkan
bagian dari puasanya kecuali
lapar dan dahaga saja ”[11].
Meraih Takwa dan Kesucian
Jiwa dengan Puasa Ramadhan
Hikmah dan tujuan utama
diwajibkannya puasa adalah
untuk mencapai takwa kepada
Allah Ta ’ala[12], yang
hakikatnya adalah kesucian
jiwa dan kebersihan hati [13].
Maka bulan Ramadhan
merupakan kesempatan
berharga bagi seorang muslim
untuk berbenah diri guna
meraih takwa kepada Allah
Ta ’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
اَي اَهُّيَأ َنيِذَّلا اوُنَمَآ
َبِتُك ُمُكْيَلَع ُماَيِّصلا
اَمَك َبِتُك ىَلَع َنيِذَّلا ْنِم
ْمُكِلْبَق ْمُكَّلَعَل
َنوُقَّتَت
“Hai orang-orang yang
beriman, diwajibkan atas
kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu, agar kamu
bertakwa ” (QS al-
Baqarah:183).
Imam Ibnu Katsir berkata,
“ Dalam ayat ini Allah Ta’ala
berfirman kepada orang-
orang yang beriman dan
memerintahkan mereka untuk
(melaksanakan ibadah) puasa,
yang berarti menahan (diri)
dari makan, minum dan
hubungan suami-istri dengan
niat ikhlas karena Allah Ta ’ala
(semata), karena puasa
(merupakan sebab untuk
mencapai) kebersihan dan
kesucian jiwa, serta
menghilangkan noda-noda
buruk (yang mengotori hati)
dan semua tingkah laku yang
tercela ”[14].
Lebih lanjut, Syaikh Abdur
Rahman as-Sa ’di menjelaskan
unsur-unsur takwa yang
terkandung dalam ibadah
puasa, sebagai berikut:
- Orang yang berpuasa
(berarti) meninggalkan semua
yang diharamkan Allah
(ketika berpuasa), berupa
makan, minum, berhubungan
suami-istri dan sebagainya,
yang semua itu diinginkan
oleh nafsu manusia, untuk
mendekatkan diri kepada
Allah dan mengharapkan
balasan pahala dari-Nya
dengan meninggalkan semua
itu, ini adalah termasuk takwa
(kepada-Nya).
- Orang yang berpuasa
(berarti) melatih dirinya untuk
(merasakan) muraqabatullah
(selalu merasakan
pengawasan Allah Ta ’ala),
maka dia meninggalkan apa
yang diinginkan hawa
nafsunya padahal dia mampu
(melakukannya), karena dia
mengetahui Allah maha
mengawasi (perbuatan)nya.
- Sesungguhnya puasa akan
mempersempit jalur-jalur
(yang dilalui) setan (dalam diri
manusia), karena
sesungguhnya setan beredar
dalam tubuh manusia di
tempat mengalirnya darah
[15], maka dengan berpuasa
akan lemah kekuatannya dan
berkurang perbuatan maksiat
dari orang tersebut.
- Orang yang berpuasa
umumnya banyak melakukan
ketaatan (kepada Allah
Ta ’ala), dan amal-amal
ketaatan merupakan bagian
dari takwa.
- Orang yang kaya jika
merasakan beratnya (rasa)
lapar (dengan berpuasa)
maka akan menimbulkan
dalam dirinya (perasaan) iba
dan selalu menolong orang-
orang miskin dan tidak
mampu, ini termasuk bagian
dari takwa [16].
Bulan Ramadhan merupakan
musim kebaikan untuk melatih
dan membiasakan diri
memiliki sifat-sifat mulia
dalam agama Islam, di
antaranya sifat sabar. Sifat ini
sangat agung kedudukannya
dalam Islam, bahkan tanpa
adanya sifat sabar berarti
iman seorang hamba akan
pudar. Imam Ibnul Qayyim
menggambarkan hal ini dalam
ucapan beliau, “Sesungguhnya
(kedudukan sifat) sabar dalam
keimanan (seorang hamba)
adalah seperti kedudukan
kepala (manusia) pada
tubuhnya, kalau kepala
manusia hilang maka tidak
ada kehidupan bagi
tubuhnya ”[17].
Sifat yang agung ini, sangat
erat kaitannya dengan puasa,
bahkan puasa itu sendiri
adalah termasuk kesabaran.
Oleh karena itu, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam hadits yang shahih
menamakan bulan puasa
dengan syahrush shabr (bulan
kesabaran) [18]. Bahkan Allah
menjadikan ganjaran pahala
puasa berlipat-lipat ganda
tanpa batas [19], sebagaimana
sabda Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam, “Semua
amal (shaleh yang dikerjakan)
manusia dilipatgandakan
(pahalanya), satu kebaikan
(diberi ganjaran) sepuluh
sampai tujuh ratus kali lipat.
Allah Ta ’ala berfirman:
“Kecuali puasa (ganjarannya
tidak terbatas), karena
sesungguhnya puasa itu
(khusus) untuk-Ku dan Akulah
yang akan memberikan
ganjaran (kebaikan)
baginya ”[20].
Demikian pula sifat sabar,
ganjaran pahalanya tidak
terbatas, sebagaimana firman
Allah Ta ’ala,
{ اَمَّنِإ ىَّفَوُي َنوُرِباَّصلا
ْمُهَرْجَأ ِرْيَغِب ٍباَسِح }
“Sesungguhnya orang-orang
yang bersabar akan
disempurnakan (ganjaran)
pahala mereka tanpa
batas ” (QS az-Zumar:10).
Imam Ibnu Rajab al-Hambali
menjelaskan eratnya
hubungan puasa dengan sifat
sabar dalam ucapan
beliau, “Sabar itu ada tiga
macam: sabar dalam
(melaksanakan) ketaatan
kepada Allah, sabar dalam
(meninggalkan) hal-hal yang
diharamkan-Nya, dan sabar
(dalam menghadapi)
ketentuan-ketentuan-Nya
yang tidak sesuai dengan
keinginan (manusia). Ketiga
macam sabar ini (seluruhnya)
terkumpul dalam (ibadah)
puasa, karena (dengan)
berpuasa (kita harus)
bersabar dalam
(menjalankan) ketaatan
kepada Allah, dan bersabar
dari semua keinginan syahwat
yang diharamkan-Nya bagi
orang yang berpuasa, serta
bersabar dalam (menghadapi)
beratnya (rasa) lapar, haus,
dan lemahnya badan yang
dialami orang yang
berpuasa ”[21].
Penutup
Demikianlah nasehat ringkas
tentang keutamaan bulan
Ramadhan, semoga
bermanfaat bagi semua orang
muslim yang beriman kepada
Allah Ta ’ala dan
mengharapkan ridha-Nya,
serta memberi motivasi bagi
mereka untuk bersemangat
menyambut bulan Ramadhan
yang penuh kemuliaan dan
mempersiapkan diri dalam
perlombaan untuk meraih
pengampunan dan kemuliaan
dari-Nya, dengan bersungguh-
sungguh mengisi bulan
Ramadhan dengan ibadah-
ibadah agung yang
disyariatkan-Nya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, “Pada
setiap malam (di bulan
Ramadhan) ada penyeru
(malaikat) yang menyerukan:
Wahai orang yang
menghendaki kebaikan
hadapkanlah (dirimu), dan
wahai orang yang
menghendaki keburukan
kurangilah
(keburukanmu )!”[22].
ىلصو هللا ملسو كرابو ىلع
انيبن دمحم هلآو هبحصو نيعمجأ،
رخآو اناوعد نأ دمحلا هلل بر
نيملاعلا
Kota Kendari, 6 Sya’ban 1431
H
Penulis: Ustadz Abdullah bin
Taslim al-Buthoni, MA
Artikel www.muslim.or.id

Jumat, 06 Agustus 2010

Inilah Amal Pembuka Pintu Rezeki


Manusia hanya dapat
mengharapkan pertolongan
dari Allah Azza Wa Jalla. Tidak
dapat menggantungkan diri
kepada makhluk. Hanya Allah
Rabbul Alamin yang berhak
untuk dimintai pertolongan
‘ Iyyaka nasyta’in’, datangnya
pertolongan itu hanyalah dari
Rabb semata.
Manusia dan kelompok yang
menggantungkan hidupnya
kepada makhluk lainnya, pasti
akan mendapatkan dirinya
terjatuh ke dalam lembah
kehinaan dan kesesatan
belaka.
Diantara pintu yang akan
mengantarkan pintu rezeki,
dan menjauhkan dari
kesempitan hidup adalah :
1.Membaca “La ilaha illahah”.
Barang siapa yang lambat
rezekinya hendaklah banyak
mengucapkan la hawla wala
quwwata illa billah (HR.At-
Tabrani.
2.Membaca “La ilaha illallahul
malikul haqqul mubin”.
Barangsiapa yang membaca
“ La ilaha illallahul malikul
haqqul mubin”, maka bacaan
itu akan menjadi keamanan
dari kefakiran dan menjadi
penenteram dari rasa takut
dalam kubur ”. (HR. Abu
Nu’aim dan Ad-Dailami).
3.Melanggengkan Istighfar.
“Barangsiapa melanggengkan
istighfar, niscaya Allah
mengeluarkan dia dari segala
kesusahan dan memberikan
dan memberikan dia rezeki
dari arah yang tidak
diduganya ”. (HR.Ahmad, Abu
Dawud, dan Ibnu Majah).
4.Membaca Surah Al-Ikhlas.
“Barangsiapa yang membaca
surah al-Ikhlas ketika masuk
rumah, maka (berkah bacaan)
menghilangkan kefakiran dari
penghuni rumah dan
tetangganya ”. (HR.Tabrani).
5.Membaca surah al-Waqi’ah
“Barangsiapa membaca surah
al-Waqi’ah setiap malam,
maka tidak akan ditimpa
kesempitan hidup ”. (HR.
Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).
6.Memperbanyak Shalawat
atas Nabi Shallahu Alaihi Wa
Sallam.
Ubay bin Ka’ab
meriwayatkan , bila telah
berlalu sepertiga malam,
Rasulullah Shallahu Alaihi Wa
Sallam berdiri seraya
bersabda, “Wahau manusia,
berzikirlah mengingat Allah.
Akan datang tiupan
(sangkakala kiamat), pertama
kemudian diiringi tiupan
keuda. Akan datang kematian
dan segala kesulitan yang ada
di dalamnya”.
7.Membaca “Subhanallah
wabihamdihi subhanallahil
‘ adzhim.
..dari setiap kalimat itu
seorang malaikat yang
bertasbih kepada Allah Ta’ala
sampai diberikan untukmu
sampia hari Kiamat yang
pahala tasbihnya itu diberikan
untukmu ”. (HR.Al-Mustaqfiri
dalam Ad-Da’wat, dinukilkan
dari Ihya Ulumuddin al-
Ghazali).
Sementara itu, diriwayatkan
dari Ibnu Abbas, ada beberapa
orang musyrik yang telah
berbuat maksiat dan dosa,
yaitu mereka membunuh dan
berzina. Maka, m ereka
menghadap Rasulullah untuk
bertobat. Mereka pun
bertanya kepada beliau,
apakah akan diterima tobat
mereka? Maka, turunlah ayat
ini yang menerangkan
hendaknya jangan berputus
asa untuk terus mencari
ampunan Allah Rabbul
Alamin.
“Katakanlah, “Wahai hamba-
hamba-Ku yang melampaui
batas terhadap diri mereka
sendiri! Janganlah kamu
berputus asa dari rahmat
Allah. Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sungguh, Dialah
Yang Maha Pengampun, Maha
Penyayang ”. (Al-Qur’an : Az-
Zummar : 53)
Semoga Allah Azza Wa Jalla
memberikan rezeki dan
melapangkan jalan hidup
kaum muslimin, dan jauhkan
dari jalan-jalan setan, yang
selalu akan menyesatkan.
Wallahu’alam.

Korban Pertemanan

Kita semua tentu mengetahui
bahwa pengaruh teman
terhadap seseorang sangat
terasa dan tidak diragukan
lagi. Teman dengan berbagai
karakternya, sedikit
banyaknya mempengaruhi
seseorang atau mewarnainya.
Ia akan mempengaruhinya,
baik ia sukai atau tidak,
disadari atau tidak. Karena itu
Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam menuntunkan kita
dalam sabdanya:
“Sesungguhnya perumpamaan
teman yang baik dan teman
yang jahat adalah seperti
pembawa minyak wangi dan
peniup api pandai besi.
Pembawa minyak wangi
mungkin akan memberi
minyak wanginya kepadamu
atau engkau membeli darinya
atau engkau hanya akan
mencium wanginya itu.
Sedangkan peniup api tukang
besi mungkin akan membakar
bajumu atau engkau akan
mencium darinya bau yang
tidak sedap “. (HR.Bukhari dan
Muslim)
Sebagaimana pembawa
minyak wangi, kadang ia
memberi minyak wangi
kepada orang yang di
dekatnya atau orang yang di
dekatnya bisa membeli
minyak wangi darinya atau
kalau tidak, ia akan mencium
aroma harum walau hanya
sekedar dekat dengannya,
maka demikian pula teman
yang baik, bisa jadi ia berbuat
kebaikan kepada kita, atau
kita mengambil kebaikan
darinya atau kita terpengaruh
dengan kebaikannya. Adapun
teman yang jelek, ia akan
berbuat kejelekan kepada kita
atau kita terpengaruh dengan
kejelekannya, sebagaimana
kalau kita mendekati tukang
pandai besi, bisa jadi akan
terbakar pakaian kita atau
paling tidak, kita merasakan
aroma yang tidak sedap
darinya.
Bukti dari ucapan nabi ini
nyata. Saya, anda dan kita
semua pasti merasakannya.
Ketika kita bergabung dengan
orang -orang yang suka
ngrumpi atau ghibah, awalnya
kita pasti risih mendengarnya
tapi seiring waktu, karena
sering nimbrung dengan
mereka, eh, malah
menikmatinya juga.
Sebaliknya ketika ada orang
yang nggak demen bicara
agama bahkan merasa gerah
ketika mendengar orang
berbicara tentang agama, tapi
ketika sering bergabung
dengan orang-orang yang
pembicaraan sehari-hari
mereka tentang agama,
lambat laun orang tadi yang
awalnya merasa risih
mendengar pembicaraan
mereka, akhirnya menjadi
suka dengan pembicaraan
mereka bahkan ketagihan,
sehingga bertambahlah
ilmunya dan ketakwaannya.
Karena itu seorang teman
sangat berpengaruh terhadap
agama dan akhlak seseorang.
Ia bisa menyulap seorang yang
shalih menjadi thalih (jelek)
dan nabil (cerdas) menjadi
jahil, begitu juga sebaliknya.
Dan ini yang saya saksikan
sendiri dengan mata kepala
saya sendiri.
Dulu ketika saya masih di
SMU, saya memiliki teman
yang sama-sama telah
dikenalkan dakwah dan
tarbiyah, kebetulan ia juga
teman sekelas saya di kelas
satu. Ketika itu saya bahu-
membahu bersamanya di rohis
(rohani islam), pokoknya dua
"aktivis" yang kompak
(hehehe, ini menurut saya lho,
bukan kata orang). Sayang di
kelas dua kami berdua
terpisah, tidak satu kelas lagi,
kami sudah berlainan kelas.
Di awal-awal kelas dua ia
sudah tidak lagi aktif di rohis,
tapi kalau melihat
lahiriyahnya, masih "ikhwan",
insya Allah, karena kami juga
masih sering bertemu dan
berbincang walaupun tak
sesering ketika ia masih aktif
di rohis dulu. Saya tanyakan
kepadanya sebab
ketidakaktifannya lagi di
rohis, ia menjawab bahwa ia
sibuk dengan pelajaran.
Ketika itu saya belum melihat
perubahan padanya, hanya
saja, saya sering melihatnya
berbincang-bincang dengan
anak-anak gaul (bukan gaul
islami tentunya).
Selang beberapa bulan tak
ada kontak antara kami,
entah karena saya yang sibuk
atau ia yang sibuk, padahal
kelas kami tak terlalu jauh,
tiba-tiba saya dikejutkan
kabar yang dibawa teman
sekelasnya, temannya
mengabarkan saya bahwa
teman saya ini sudah
bergabung dengan grup band
anak-anak gaul yang baru-
baru ini dekat dengannya.
Masya Allah, alangkah
cepatnya hati
berubah!..Kemana ilmu yang
sudah ia pelajari selama ini?
Entahlah, mungkin ia sudah
lupa atau melupakannya.
Dan yang lebih "fantastik" lagi
adalah yang diceritakan
teman saya. Ia memiliki teman
yang sangat semangat
mempraktekan Sunnah Nabi,
selain itu, ia juga sangat
bangga dengan identitas
keislamannya, bila pergi
kemana-mana ia selalu
memakai gamis pakistan dan
ia tak canggung dengan
pakaiannya itu. Suatu hari
temannya ini melamar
pekerjaan di sebuah pabrik
dan akhirnya diterima. Ketika
memasuki dunia barunya di
pabrik ia tetap semangat
menjalankan agamanya, ia
selalu menjaga shalat
berjamaah bahkan ia juga
tetap bangga dengan gamis
pakitan yang ia kenakan,
sesuatu yang tentu saja asing
di lingkungan pabriknya.
Kemudian selang empat bulan
setelah ia diterima bekerja di
pabrik itu, teman saya
berkunjung ke pabriknya
untuk melepas rindu bertemu
dengannya. Nah, ketika teman
saya melihat temannya itu, ia
kaget bukan main, ia seolah-
olah tak percaya dengan apa
yang ia lihat, seakan-akan ia
tak yakin kalau orang yang ia
lihat adalah temannya yang
dulu. Mengapa? Ia
menyaksikan teman-temannya
sedang bermabuk mabukan
miras dengan sekelompok
pekerja di situ, terlihat anting
ditelinganya dan gamis
pakistan yang dulu sering ia
pakai telah diganti dengan
baju dan celana jeans yang
banyak sobekan! Apakah ia
temannya yang dulu atau
seorang preman?! sangat
mengenaskan!
Teman saya bingung melihat
pemandangan yang aneh itu,
kemudian ia perhatikan
lingkungan pabrik tadi,
ternyata memang tidak
menunjang seseorang untuk
istiqamah dalam agamanya,
orang-orangnya bebas
bermaksiat, mau mabuk-
mabukan bisa, mau berzina
pun bisa! Naudzu billah min
dzalika!.. Akhirnya teman saya
mengurungkan niatnya untuk
bertemu dengan temannya
dan langsung pulang ke
rumahnya.
Masih banyak lagi contoh
seperti itu yang bisa kita
kumpulkan dari orang-orang
terdekat kita, apakah itu
keluarga kita atau sahabat-
sahabat kita, maupun orang
lain. Seluruh kasus itu
memberi kita pelajaran
penting bahwa pengaruh
buruk dari pergaulan yang
salah memang membawa
korban tanpa pandang bulu,
apakah itu orang yang saleh
seberapa pun tingkat
kesalehannya dan apakah ia
orang yang berilmu,
seberapapun keilmuannya,
kecuali yang Allah rahmati
dan selamatkan.
Melihat kenyataan seperti itu,
maukah kita menjadi korban
berikutnya? Kalau tidak, mari
kita bergabung bersama
kafilah orang-orang yang baik,
bahu-membahu bersama
mereka menuju tempat yang
diridhai-Nya, di surga naim.
Amin...
Jakarta, 9 Sya`baan 1431/21
Juli 2010
umaranung@yahoo.co.id

Kamis, 05 Agustus 2010

Ramadhan Di Babak Keempat Akhir Zaman


Ramadhan Mubarok.
Menjelang tibanya bulan
Ramadhan, setiap orang
beriman merasa berbahagia.
Setiap pencinta al-khair
(kebaikan) bersuka cita. Ada
suasana penuh ketaatan dan
kesucian yang sungguh
dinantikan. Bukan rahasia
lagi, bahwa sebagian besar
ummat Islam mengalami
perubahan penampilan bila
sudah memasuki bulan penuh
rahmat dan berkah Ilahi. Yang
jarang muncul di masjid, tiba-
tiba kita jumpai datang sholat
ke masjid. Yang jarang
membuka mushaf Al-Qur ’an,
sekonyong-konyong rajin
tilawah. Muslimah yang tidak
pernah menutup auratnya,
mendadak tampil ber-jilbab.
Subhaanallah.
Bahkan mereka yang biasa
berbuat maksiat juga
” terpaksa” mengurangi
perilaku tercelanya. Bukan
karena ia sadar, tapi karena
ada semacam keharusan
untuk merahasiakan
kemungkarannya. Ada
kesungkanan untuk secara
vulgar meneruskan dosanya.
Sebut saja ada sejenis
” solidaritas” yang perlu ia
tunjukkan di muka umum
karena berada di dalam bulan
suci. Ada semacam ketidak-
leluasaan untuk meneruskan
kemaksiatannya dibandingkan
bila berada di bulan-bulan
selain Ramadhan. Sungguh,
bagi para penggemar
kemaksiatan bulan Ramadhan
merupakan bulan penuh
siksaan batin dan penderitaan
lahir. Laa haula wa laa
quwwata illa billah. Benarlah
apa yang diucapkan
Rasulullah Muhammad
shallallahu 'alaihi wasallam
dalam haditsnya berikut ini.
اَذِإ َناَك ُلَّوَأ
ٍةَلْيَل ْنِم ِرْهَش
َناَضَمَر ْتَدِّفُص
ُنيِطاَيَّشلا
ُةَدَرَمَو ِّنِجْلا
ْتَقِّلُغَو ُباَوْبَأ
ِراَّنلا ْمَلَف
ْحَتْفُي اَهْنِم
ٌباَب ْتَحِّتُفَو
ُباَوْبَأ ِةَّنَجْلا
ْمَلَف ْقَلْغُي
اَهْنِم ٌباَب
يِداَنُيَو ٍداَنُم اَي
َيِغاَب ِرْيَخْلا
ْلِبْقَأ اَيَو
َيِغاَب ِّرَّشلا
ْرِصْقَأ
Bersabda Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam:
“ Bila tiba malam pertama
bulan Ramadhan para
syaithan dibelenggu,
maksudnya jin. Dan pintu-2
Neraka ditutup dan tak
satupun yang dibuka dan
pintu-2 surga dibuka dan tak
satupun yang ditutup dan ada
penyeru yang menyerukan:
” Wahai para pencari
kebaikan, sambutlah
(songsonglah) dan wahai para
pencari kejahatan, tolaklah
(hindarilah). ” (HR Tirmidzi)
Namun demikian, kita perlu
menyadari bahwa keadaan
dunia dewasa ini tidaklah
sama dengan keadaannya di
masa lalu. Sebut saja sepuluh,
limapuluh apalagi seratus
atau dua ratus tahun yang
lalu. Hanya dalam beberapa
tahun belakangan ini, secara
cepat dunia telah mengalami
penuaan mendadak. Dunia
sudah tua renta. Ibarat
seorang manula (manusia usia
lanjut), dunia sudah berjalan
membungkuk dengan
menggunakan tongkat,
rambutnya sudah banyak yang
memutih beruban. Memang,
semenjak limabelas abad yang
lalu sewaktu diutusnya Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi
wasallam ke muka bumi,
dunia segera memasuki era
Akhir Zaman. Mengapa?
Karena Nabi Akhir Zaman
telah diutus oleh Allah. Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi
wasallam merupakan penutup
rangkaian para Nabi utusan
Allah yang diperuntukkan bagi
penutup para ummat. Beliau
merupakan Nabi Akhir Zaman
untuk kita, Ummat Akhir
Zaman.
Dalam sebuah hadits panjang
riwayat Imam Ahmad, Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi
wasallam telah menjelaskan
ringkasan perjalanan sejarah
Ummat Islam yang hidup di
Akhir Zaman. Secara garis
besar, beliau mengatakan
bahwa bakal ada lima babak
yang dilalui dalam sejarah
ummat Islam di Akhir Zaman.
Dari kelima babak tersebut
kita telah menyaksikan tiga
babak berlalu. Dan dewasa ini
kita sedang menjalani babak
keempat. Tinggal satu babak
terakhir yang perlu
disongsong kedatangannya.
ُنوُكَت ُةَّوُبُّنلا
ْمُكيِف اَم َءاَش
ُهَّللا ْنَأ َنوُكَت
َّمُث اَهُعَفْرَي اَذِإ
َءاَش ْنَأ اَهَعَفْرَي
َّمُث ُنوُكَت
ٌةَفاَلِخ ىَلَع
ِجاَهْنِم ِةَّوُبُّنلا
ُنوُكَتَف اَم َءاَش
ُهَّللا ْنَأ َنوُكَت
َّمُث اَهُعَفْرَي اَذِإ
َءاَش ُهَّللا ْنَأ
اَهَعَفْرَي َّمُث
ُنوُكَت اًكْلُم
اًّضاَع ُنوُكَيَف اَم
َءاَش ُهَّللا ْنَأ
َنوُكَي َّمُث
اَهُعَفْرَي اَذِإ َءاَش
ْنَأ اَهَعَفْرَي َّمُث
ُنوُكَت اًكْلُم
اَّيِرْبَج
ُنوُكَتَف اَم َءاَش
ُهَّللا ْنَأ َنوُكَت
َّمُث اَهُعَفْرَي اَذِإ
َءاَش ْنَأ اَهَعَفْرَي
َّمُث ُنوُكَت
ًةَفاَلِخ ىَلَع
ِجاَهْنِم ِةَّوُبُّنلا
َّمُث َتَكَس
Bersabda Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam:
“ Akan berlangsung babak (1)
An-Nubuwwah (kenabian) di
tengah-tengah kalian selama
kurun waktu tertentu yang
Allah kehendaki lalu Dia
mengangkatnya (berakhir)
bila Dia menghendaki untuk
mengakhirinya. Kemudian
berlangsung babak (2)
kekhalifahan menurut sistim
kenabian selama kurun waktu
tertentu yang Allah kehendaki
lalu Dia mengangkatnya bila
Dia menghendaki untuk
mengakhirinya Kemudian
berlangsung babak (3)
kerajaan yang bengis selama
kurun waktu tertentu yang
Allah kehendaki lalu Dia
mengangkatnya bila Dia
menghendaki untuk
mengakhirinya Kemudian
berlangsung babak (4)
pemerintahan yang menindas
(diktator) selama kurun waktu
tertentu yang Allah kehendaki
lalu Dia mengangkatnya bila
Dia menghendaki untuk
mengakhirinya Kemudian
akan berelangsung kembali
babak (5) kekhalifahan
menurut sistim kenabian.
Kemudian beliau diam ”.(HR
Ahmad 17680)
Babak pertama dan kedua
merupakan babak yang sangat
ideal. Pada babak pertama
ummat Islam langsung
dipimpin dan dibimbing oleh
Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wasallam. Sedangkan
babak kedua ditandai dengan
munculnya empat orang Al-
Khulafa Ar-Rasyidin (para
khalifah yang terbimbing)
yang terdiri dari sahabat-
sahabat terbaik, yakni Abu
Bakar Ash-Shiddiq, Umar
ibnul-Khattab, Ustman bin
Affan dan Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu ’anhum ’ajma’iin.
Keempat sahabat ini termasuk
sepuluh sahabat yang
dijanjikan surga oleh Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi
wasallam.
Sesudah itu, pada babak
ketiga ummat Islam
mengalami kepemimpinan
para raja-raja yang
kebanyakan di antara mereka
berlaku zalim. Namun
demikian –walau jarang- ada
juga yang adil seperti cicit
Umar ibnul-Khattab
radhiyallahu ’anhu, yakni
Umar bin Abdul Aziz
rahimahullah. Babak ketiga
ditandai dengan silih
bergantinya aneka kerajaan
Islam. Namun secara garis
besar ada tiga di antaranya
yang sangat signifikan, yakni
Dinasti Kerajaan Bani
Ummayyah, Bani Abbasiyyah
dan Kesultanan Turki Ustmani.
Setelah runtuhnya
kekhalifahan terakhir yakni
Kesultanan Turki Utsmani,
maka duniapun memasuki
babak keempat. Inilah babak
dimana kita hidup dewasa ini.
Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wasallam menyebutkan
bahwa di babak keempat ini
ummat bakal dipimpin oleh
para Mulkan Jabriyyan (para
penguasa yang menindas/
memaksakan kehendak alias
para diktator). Dan benar
saja, semenjak
ditinggalkannya babak ketiga,
dunia segera menyaksikan
bagaimana kepemimpinan
yang semula berlangsung
selama ribuan tahun di bawah
kepemimpinan ummat Islam
atas dunia, tiba-tiba Allah
gilirkan dan serahkan kepada
kaum kafir yang kemudian
memaksakan kehendak
mereka dan mengabaikan
Kehendak Allah dan
RasulNya. Belum pernah
dalam sejarah Islam di Akhir
Zaman kita merasakan
keterasingan dari ajaran Islam
sebagaimana yang kita alami
dewasa ini. Kepemimpinan
dunia dewasa ini diarahkan
dari Barat yang notabene
merupakan Judeo-Christian
Civilization (Peradaban
Yahudi-Nasrani). Segenap
negeri kaum muslimin
mengekor ke Barat. Keadaan
ini telah di-Nubuwwah-kan
oleh Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam sejak dulu:
َّنُعِبَّتَتَل
َنَنَس َنيِذَّلا ْنِم
ْمُكِلْبَق
اًرْبِش ٍرْبِشِب
اًعاَرِذَو ٍعاَرِذِب
ىَّتَح ْوَل اوُلَخَد
يِف ِرْحُج ٍّبَض
ْمُهوُمُتْعَبَّتاَل
اَنْلُق اَي َلوُسَر
ِهَّللا َدوُهَيْلآ
ىَراَصَّنلاَو َلاَق
ْنَمَف
Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda: "Sungguh,
kalian benar-benar akan
mengikuti kebiasaan orang-
orang sebelum kalian
sejengkal demi sejengkal dan
sehasta demi sehasta,
sehingga sekiranya mereka
masuk ke dalam lubang
biawak pun kalian pasti akan
mengikuti mereka." Kami
bertanya; "Wahai Rasulullah,
apakah mereka itu Yahudi dan
Nasrani?" Beliau menjawab:
"Siapa lagi kalau bukan
mereka?" (MUSLIM - 4822)
Babak keempat ini merupakan
babak paling kelam dalam
sejarah Islam. Ibarat sebuah
filem, maka babak keempat
merupakan potongan filem
dimana jagoannya mengalami
kekalahan sementara
penjahatnya berada di atas
angin. Di babak ini kaum
muslimin dituntut untuk
bersabar dan
melipatgandakan
kesabarannya menyaksikan
kesewenang-wenangan kaum
kuffar. Puncak dari kegelapan
babak keempat ialah
keluarnya puncak fitnah,
yakni Dajjal. Dajjal merupakan
tanda besar pertama yang
menandakan semakin
dekatnya Kiamat. Tidak
mengherankan bila Ahmad
Thomson, seorang penulis
muslim berkebangsaan
Inggirs, menyatakan bahwa
dunia modern dewasa ini
sedang mengokohkan dirinya
menjadi sebuah Sistem Dajjal
yang kian hari kian hegemonik
dan mempersiapkan diri untuk
menyambut kedatangan
pemimpinnya yakni si mata
tunggal Dajjal. Dan tidak
mengherankan pula bila pada
babak ini terjadi akselerasi
kemunculan tanda-tanda kecil
Kiamat yang umumnya berupa
fenomena pelanggaran hukum
Allah dan RasulNya. Sebab ini
merupakan babak yang
mendahului munculnya babak
kelima dimana pada saat itu
justru dunia akan
menyaksikan kembali
kedamaian dan keberkahan
ketika diberlakukannya
kembali hukum Allah dengan
tegaknya babak (5)
kekhalifahan menurut manhaj
(sistim) kenabian.
ُجُرْخَي يف ِرِخآ
يتَّمُأ ُّيِدَهملَا
ِهيِقْسَي
هللا َُثيَغْلا
ُجِرْخُتَو ُضرَألا
اَهَتاَبَن يِطْعُيَو
َلاَملا اًحاَحِص
ُرُثْكَتَو
ُةَيِشاَملا ُمُظْعَتَو
ُةَّمُألا ُشيِعَي
اًعْبَس ْوَأ
اًيِناَمَث يِنْعَي
اًجَجُح
“Pada masa akhir ummatku
akan muncul Al-Mahdi. Pada
waktu itu Allah menurunkan
banyak hujan, bumi
menumbuhkan tumbuh-
tumbuhan, memberikan
banyak harta (penghasilan),
banyak ternak, ummat
menjadi mulia dan dia (Al-
Mahdi) hidup selama tujuh
atau delapan tahun. ” (HR Al-
Hakim 4:557-558)
Bila kita ikuti berbagai
perkembangan situasi niscaya
begitu banyak contoh nyata di
sekitar kita yang
membenarkan bahwa kita
sekarang berada dalam babak
paling kelam dalam sejarah
Islam. Kaum muslimin banyak
yang meniru pola hidup kaum
Yahudi-Nasrani. Tidak bisa
dipungkiri bahwa seluruh
dunia dewasa ini berkiblat
kepada kepemimpinan dunia
yang berperadaban Yahudi-
Nasrani. Kebanyakan
pemimpin negeri muslim
mengekor kepada mereka.
Bahkan sistem hukum dan
kemasyarakatanpun menjiplak
sistem mereka. Apalagi di
bidang budaya dan hiburan
praktis kaum muslimin
menikmati produk mereka
sepenuhnya. Padahal Allah
memperingatkan akibat yang
bakal timbul jika tingkah
mengikuti mereka
dilestarikan.
اَي اَهُّيَأ َنيِذَّلا
اوُنَمآ ال اوُذِخَّتَت
َدوُهَيْلا
ىَراَصَّنلاَو
َءاَيِلْوَأ ْمُهُضْعَب
ُءاَيِلْوَأ ٍضْعَب
ْنَمَو ْمُهَّلَوَتَي
ْمُكْنِم ُهَّنِإَف
ْمُهْنِم َّنِإ َهَّللا ال
يِدْهَي َمْوَقْلا
َنيِمِلاَّظلا
“Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu
mengambil orang-orang
Yahudi dan Nasrani menjadi
pemimpin-pemimpin (mu);
sebahagian mereka adalah
pemimpin bagi sebahagian
yang lain. Barang siapa di
antara kamu mengambil
mereka menjadi pemimpin,
maka sesungguhnya orang itu
termasuk golongan mereka.
Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada
orang-orang yang zalim. ” (QS.
Al-Maidah : 51)
Setidaknya ada dua akibat
yang Allah ancam akan
menimpa kaum muslimin jika
menjadikan orang-orang
Yahudi dan Nasrani menjadi
role-model (kiblat
kepemimpinan). Pertama,
Allah katakan ”Barang siapa
di antara kamu mengambil
mereka menjadi pemimpin,
maka sesungguhnya orang itu
termasuk golongan mereka. ”
Artinya, Allah tidak pandang
lagi kita sebagai ummat Islam,
melainkan menjadi bagian dari
mereka (Yahudi dan Nasrani).
Dan kedua, Allah memandang
kita sebagai orang-orang yang
zalim yang tidak layak
memperoleh petunjuk-Nya.
Jika kedua akibat tersebut
telah menjadi kenyataan,
maka tidak mengherankan
bilamana jumlah besar
penduduk muslim di berbagai
penjuru dunia tidak membawa
serta pengaruh signifikan
ajaran Islam yang dianutnya.
Di samping itu kita menjadi
faham mengapa dengan
mudahnya kaum muslimin rela
menanggalkan ideologi Islam
dan menerima ideologi asing
yang ditawarkan kaum
Yahudi-Nasrani. Sebab mereka
lebih tertarik mengikuti
petunjuk kaum Yahudi-Nasrani
daripada petunjuk Allah
dalam menata kehidupan
pribadi maupun kolektif.
Saudaraku, marilah kita
bertekad menjadikan bulan
Ramadhan tahun ini sebagai
turning point (titik balik) agar
kaum muslimin menelusuri
kembali jatidirinya yang sejati.
Marilah kita melaksanakan
shaum (berpuasa) dalam arti
sebenarnya. Kita menahan diri
dari godaan para Mulkan
Jabriyyan (para penguasa yang
menindas/memaksakan
kehendak alias para diktator).
Jangan hendaknya giliran
kepemimpinan kaum Yahudi-
Nasrani di babak keempat
perjalanan sejarah ummat
Islam di Akhir Zaman
membuat kita menjadi inferior
(rendah diri). Sehingga kita
menggunakan kaedah kaum
kafir If you cannot beat them,
then you join them (jika kamu
tidak sanggup mengalahkan
mereka, maka bergabunglah
bersama mereka). Sekal-kali
tidak, saudaraku...!! Marilah
kita bersabar dalam beriman
dan berislam di era paling
kelam dalam sejarah Islam ini.
Memang tidak mudah, tapi
percayalah, hanya dengan
berpegang kepada jatidiri
Iman dan Islam yang
diperintahkan Allah-lah kita
bakal sanggup menyambut
datangnya babak kelima,
yakni tegaknya babak (5)
kekhalifahan menurut manhaj
(sistim) kenabian.
الَو اوُنِهَت الَو
اوُنَزْحَت ُمُتْنَأَو
َنْوَلْعألا ْنِإ
ْمُتْنُك َنيِنِمْؤُم
“Janganlah kamu bersikap
lemah, dan janganlah (pula)
kamu bersedih hati, padahal
kamulah orang-orang yang
paling tinggi (derajatnya), jika
kamu orang-orang yang
beriman. ” (QS. Ali Imran : 139)
Saudaraku, marilah kita
mengembangkan mentalitas
pemenang walaupun dalam
realitanya kemenangan itu
belum kita raih. Daripada
mengembangkan mentalitas
pecundang demi terpenuhinya
mimpi seolah-olah sudah
meraih kemenangan...
Hasbun-Allahu wa ni ’mal
Wakiil. Ni’mal Maula wa
ni’man Nashiir.
Wallahu a’lam bish-showwaab.

Selasa, 03 Agustus 2010

Perselisihan, Gempa,Tanda-Tanda Kiamatdan Kehadiran ImamMahdi

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

Kamis, 29 Juli 2010

Antara Suami Dan Ibu...!

Antara Suami Dan Ibu
Rabu, 16/06/2010 06:35 WIB |
email | print | share
Assalamu alaikum wr wb...
Semoga pertanyaan saya
bukan karena amarah atau
kekecewaan, tapi untuk
menambah keyakinan dan
khzanah ilmu.
Istri saya jarang sekali mau
menghargai saya dibanding
dengan ibunya, ketika saya
tanya hal itu dia berkata
kalau ibunya lebih berhak
karena ibunya yang
melahirkan dia walaupun
ucapan saya benar. Jika saya
menyarankan sesuatu tetapi
tidak sesuai dengan kebiasaan
ataupun keinginan ibunya, dia
terang-terangan mengabaikan
saya.
Istri sayapun sering
mengungkit sesuatu yang
menurutnya buruk pada
keluarga saya. Jika keluarga
saya minta pertolongan saya
maka segala upaya dia
lakukan agar saya tidak
melakukannya.
Dalam hal keuangan istri saya
berprinsip uang suami harus
dipegang istri saya semua, dan
saat ini saya jarang sedekah
harta karena saya jarang
memiliki uang, bahkan ketika
laparpun terkadang saya
harus meminjam uang teman.
Istri saya begitu menghargai
ibunya walaupun ibunya jauh
dari kehidupan islam dan
sering melakukan hal musyrik
bahkan tak jarang menyakiti
istri saya. Bahkan ketika
mereka bertengkar, istri saya
langsung sholat dan
mengaji.... Tapi hal itu tidak
berlaku bagi saya. Jika dia
ribut sama saya, sholat pun
tak mau dilakukan.
Perlu diketahui perilaku ibu
mertuapun sama demikian
adanya....
Semoga ini bukan kemarahan
saya.
Wassalaam
istri membangkang
Jawaban
Wa’alaikumussalam
warahmatullahi wa
barakatuhu
Bapak Abdullah yang
diberkahi Allah, tentu bukan
perkara yang mudah bagi
Anda menghadapi istri, seperti
yang Anda ceritakan tadi.
Menilik latar belakangnya,
tampaknya istri tidak
dibesarkan dalam didikan
agama yang baik, terbukti ia
tak rutin menjalankan sholat
lima waktu, ia belum
mengetahui hak suami atas
istrinya, begitu juga dengan
kewajibannya masing-masing,
dan ia pun tak mampu
menempatkan skala prioritas
antara suami dan ibunya.
Akibatnya Anda mendapatkan
masalah yang beruntun
karena akar masalahnya,
yaitu interaksi seseorang
dengan agamanya, tidak
dicarikan jalan keluar terlebih
dahulu.
Bapak Abdullah yang
diberkahi Allah,
Sebelum Anda memutuskan
untuk menikahinya dulu, tentu
Anda sudah mengenal istri
Anda, kan Pak? Anda pasti
memiliki alasan yang kuat
kenapa dulu menikahinya.
Apakah semata-mata karena
cantiknya? Atau ada faktor
yang lain? Bila Anda masih
ingat alasan Anda itu,
tentunya Anda sekarang bisa
mengevaluasi, apakah setelah
menikah dengan Anda,
kebaikannya justru Anda
dapatkan atau sebaliknya,
justru keburukannya yang
menjadi lebih dominan?
Namun apapun, semua sudah
Anda putuskan, tentu dengan
segala risikonya, betul kan
Pak?
Bapak Abdullah, pernikahan
adalah ibadah. Maka
menegakkan fungsi masing-
masing adalah keniscayaan
yang harus diwujudkan.
Seorang suami adalah imam,
maka tugasnya adalah
mengarahkan keluarganya
agar jauh dari api neraka.
 “ Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu
dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat
yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap
apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang
diperintahkan ”.(AQ S At
Tahrim :6)
Maka tugas pertama seorang
suami dalam rumah
tangganya adalah mengajak
mereka, istri dan anaknya,
untuk mendekati Allah,
mencintai agama-Nya,
menegakkan syariat-Nya.
Tentu saja ini tidak semata-
mata masalah ritual tetapi
jauh lebih penting adalah
mengubah hati agar
aqidahnya benar, ibadahnya
lurus dan akhlaknya berubah
menjadi baik. Tentu ini bukan
pekerjaan mudah dan
sebentar. Harus dilakukan
secara rutin dan terus
menerus. Dan suamilah yang
harus bertanggungjawab
untuk menjalankan hal ini,
baik secara langsung ataupun
tidak langsung.
Termasuk tugas suami adalah
membentengi anggota
keluarganya dari pengaruh
buruk yang mungkin mengenai
mereka. Pengaruh ini bisa
datang dari mana saja,
termasuk dari mertua Anda
jika mereka jauh dari nilai
agama. Bukan hal mudah
untuk mengatasi hal ini,
namun bukan berarti tidak
mungkin. Optimis, husnudzan
pada Allah, adalah sikap yang
dibutuhkan ke depan. Tentu
Anda sangat mencintai istri
Anda, namun patut diingat
bahwa seorang suami harus
mampu mengarahkan istri
ketika bengkok, dengan
ketegasan tanpa
meninggalkan nuansa kasih
sayang di dalamnya. Jangan
sampai seorang istri dibiarkan
ketika membangkang pada
suami, kurang menjalankan
kewajiban, sampaipun dalam
urusan makan suaminya
terlantar. Anda memang
berkewajiban memberi
nafkah, namun teknisnya tidak
harus semua gaji dipegang
istri sehingga jika Anda punya
keperluan malahan Anda jadi
berhutang. Tegakkan
kewibawaan di hadapan istri,
Pak, sehingga Anda tidak
didominasi olehnya, bukankah
Anda adalah pemimpin
keluarga?
Sikap istri Anda menghormati
dan mencintai Ibunya adalah
hal yang baik, bersyukurla,
namun jangan sampai hal ini
mengalahkan kepatuhannya
pada suami dalam hal yang
ma ’ruf. Cobalah dekati
mertua Anda, tunjukkan
bahwa Anda juga menyayangi
mereka, selain dalam hal
aqidah, mertua tetap berhak
mendapat perlakuan yang
baik. Mungkin ini pintu awal
merebut simpati istri maupun
mertua Anda dan peluang
untuk mendakwahkan
kebaikan pada mereka.
Bersabarlah, Pak...kesabaran
Anda insya Allah tidak akan
sia-sia. Tetap semangat.
Wallahu a ’lam bish-shawab
Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wa barakatuh
bu Urba.

Selasa, 27 Juli 2010

Penyusuan Yang Sempurna: Antara Sains dan Al-Quran

Oleh Abd-Alda'em Al-Kheel
Baru-baru ini, para ilmuwan
menemukan bahwa makanan
sempurna untuk bayi adalah
air susu ibu, dan bahwa
memberi makan tidak akan
lengkap tanpa ibu menyusui
bayinya selama dua tahun.
Itulah yang dilaporkan
Organisasi Kesehatan Dunia di
awal abad 20. Sesuatu yang
telah dikatakan Al-Qur ’an
empat belas abad yang lalu.
Para dokter berpikir menyusui
bayi hanya hanya memberi
dampak psikologis hubungan
dengan ibunya dan tidak ada
manfaat lebih jauh. Tetapi
setelah melakukan riset
selama setengah abad,
manfaat besar lainnya untuk
menyusui mulai muncul,
bahkan dewasa ini para
ilmuwan menemukan manfaat
baru dari susu ibu. Kekebalan
tubuh yang disebut
imunoglobulin ditemukan pada
susu ibu pada awalnya. Ia
memberikan kekebalan tubuh
terhadap berbagai bakteri dan
virus. Bahkan para ilmuwan
menemukan bahwa jumlah
bakteri dalam usus bayi yang
diberi susu sapi adalah
sepuluh kali lipat lebih banyak
daripada yang ada dalam usus
bayi yang diberi susu ibu.
Keuntungan Bagi Anak:
Kekebalan tubuh
"imunoglobulin" membantu
bayi selama tiga bulan
pertama untuk melindungi
tubuh dari serangan kuman
terus-menerus, bahkan
membantunya untuk
membentuk dan memperkuat
sistem kekebalan sendiri.
Apalagi beberapa penelitian
menunjukkan bahwa sistem
kekebalan bayi tumbuh lebih
cepat ketika ia diberi susu ibu.
Susu ibu juga mengandung
unsur kekebalan yang disebut
"mucins" yang mengandung
banyak protein dan
karbohidrat. Zat ini mengikuti
bakteri dan virus dan
sepenuhnya menghilangkan
mereka dari tubuh tanpa efek
samping, berbeda dengan
obat-obatan kimia.
Susu ibu juga memberikan
stabilitas psikologis bayi,
membantu tidur dan tenang,
ia bekerja sebagai analgesik
alamiah terbaik bagi bayi. ASI
melindungi bayi dari alergi.
Bahaya gizi pada susu sapi,
misalnya, hal itu
meningkatkan kemungkinan
serangan kanker delapan kali
lipat.
Keuntungan Bagi Ibu
Banyak studi yang dilakukan
di tiga puluh negara
menunjukkan ibu yang
menyusui bayinya kurang
terkena kanker payudara.
Rahim melebar dua puluh kali
selama kehamilan dan
melahirkan. Penelitian
menunjukkan menyusui
bermanfaat untuk membantu
rahim kembali ke ukuran
normal. Sebaliknya ibu yang
tidak menyusui bayinya
ukuran rahimnya tetap lebih
dari batas normal. Selain itu,
menyusui juga melindungi dari
kanker rahim.
Penyusuan alami membantu
ibu untuk mengurangi berat
badannya dan melindungi
dirinya dari kegemukan.
Bahkan ia juga bekerja
sebagai analgesik alami rasa
sakit bagi ibu juga. Penyusuan
alami juga membantu ibu dan
anak untuk tidur nyenyak.
Manfaat Bagi Masyarakat
Penyusuan alami tidak mahal
sebaliknya buatan menyusu.
Kita mungkin terkejut ketika
kita tahu bahwa American
Academy for Pediatric
menekankan jika Amerika
Serikat mengikuti cara
menyusu alami itu akan
menghemat 3600 juta dolar
per tahun.
Penyusuan alami juga
berdampak positif pada
lingkungan, karena polusi
terjadi akibat proses
manufaktur, pengeringan susu
botol susu sapi, dan sampah
yang dihasilkan dari
penggunaan susu dan botol.
Periode Ideal Untuk Menyusui
Organisasi Kesehatan Dunia
dan Organisasi UNISAF
melakukan banyak penelitian
pada bayi, dan mendapat hasil
dari penelitian ini bahwa
periode yang ideal adalah dua
tahun. Karena selama dua
tahun pertama bayi memiliki
kebutuhan mendesak
terhadap susu steril seperti
susu ibu, sebagai sistem
kekebalan agar ia dapat
menghadapi setiap
kemungkinan penyakit
sebelum dua tahun usianya.
Organisasi Kesehatan Dunia
menyelenggarakan konferensi
berjudul "Makanan
Pendamping ASI" pada tahun
2001 dengan kesimpulan
sebagai berikut:
Dua tahun pertama dari
kehidupan bayi adalah jendela
kritis di mana fondasi untuk
pertumbuhan dan
perkembangan yang sehat
dibangun. Menyusui bayi
merupakan inti perawatan
dalam periode ini.
Selain itu, dalam kesimpulan
dari konferensi, periode ideal
untuk menyusui adalah dua
tahun, karena ada kebutuhan
mendesak bagi bayi terhadap
kekebalan tubuh untuk
mengembangkan sistem
kekebalan selama periode ini.
ia tidak dapat menemukannya
selain dalam susu ibu.
Dokter menekankan bahwa
semua jenis makanan tidak
bisa cukup bagi bayi selama
dua tahun pertama usia bayi,
karena bayi menghalami
banyak faktor yang
mengakibatkan banyak
penyakit. Sehingga dua tahun
pertama merupakan masa
kritis dan sensitif untuk bayi di
mana kita harus bergantung
pada susu ibu untuk
menghindari bahaya ini.

Senin, 26 Juli 2010

Shalat Tasbih



Shalat Tasbih
Shalat Tasbih merupakan
shalat sunnat yang
didalamnya pelaku shalat
akan membaca kalimat tasbih
(kalimat “Subhanallah wal
hamdu lillahi walaa ilaaha
illallahu wallahu akbar ”)
sebanyak 300 kali (4 raka'at
masing-masing 75 kali tasbih).
Shalat ini diajarkan Rasulullah
SAW kepada pamannya yakni
sayyidina Abbas bin Abdul
Muthallib. Namun beberapa
ulama berbeda pendapat
tentang hal ini.
Hikmah
Hikmah shalat adalah dapat
mencegah perbuatan keji dan
kemungkaran, tentu saja dari
shalat tasbih yang dilakukan
dengan hati yang ikhlas
diharapkan akan dapat pula
seseorang yang melakukannya
dicegah atau terjaga dari
perbuata-perbuatan yang keji
lagi mungkar.
Niat Shalat
Niat shalat ini, sebagaimana
juga shalat-shalat yang lain
cukup diucapkan didalam hati
dan tidak perlu dilafalkan,
tidak terdapat riwayat yang
menyatakan keharusan untuk
melafalkan niat akan tetapi
yang terpenting adalah
dengan niat hanya
mengharapkan Ridho Allah
Ta'ala semata dengan hati
yang ikhlas dan khusyu.
Cara Pengerjaan
Shalat tasbih dilakukan 4
raka'at (jika dikerjakan siang
maka 4 raka'at dengan sekali
salam, jika malam 4 raka'at
dengan dua salam )
sebagaimana shalat biasa
dengan tambahan bacaan
tasbih pada saat-saat berikut:
No. Waktu Jml.
Tasbih
1 Setelah
pembacaan surat
al fatihah dan
surat pendek saat
berdiri 15 kali
2 Setelah tasbih
ruku' (Subhana
rabiyyal adzim...) 10
Kali
3 Setelah I'tidal 10
Kali
4 Setelah tasbih
sujud pertama
(Subhana rabiyyal
a'la...) 10
Kali
5 Setelah duduk
diantara dua sujud 10
Kali
6 Setelah tasbih
sujud kedua
(Subhana rabiyyal
a'la...) 10
Kali
7 Setelah duduk
istirahat sebelum
berdiri (atau
sebelum salam
tergantung pada
raka'at keberapa) 10
Kali
Jumlah total satu
raka'at 75
Jumlah total
empat raka'at
4 X 75
= 300
kali
Perbedaan pendapat ulama
Para ulama berbeda pendapat
mengenai shalat tasbih,
berikut adalah beberapa
pendapat mereka :
Pertama: Sholat tashbih
adalah mustahabbah
(sunnah).
Pendapat ini dikemukakan
oleh sebagian ulama penganut
Mazhab Syafi'i. Hadits
Rasulullah SAW kepada
pamannya Abbas bin Abdul
Muthallib yang berbunyi:
"Wahai Abbas pamanku, Aku
ingin memberikan padamu,
aku benar-benar mencintaimu,
aku ingin engkau melakukan -
sepuluh sifat- jika engkau
melakukannya Allah akan
mengampuni dosamu, baik
yang pertama dan terakhir,
yang terdahulu dan yang baru,
yang tidak sengaja maupun
yang disengaja, yang kecil
maupun yang besar, yang
tersembunyi maupun yang
terang-terangan. Sepuluh sifat
adalah: Engkau melaksankan
shalat empat rakaat; engkau
baca dalam setiap rakaat Al-
Fatihah dan surat, apabila
engkau selesai membacanya
di rakaat pertama dan engkau
masih berdiri, mka
ucapkanlah: Subhanallah
Walhamdulillah Walaa Ilaaha
Ilallah Wallahu Akbar 15 kali,
Kemudian ruku'lah dan
bacalah do'a tersebut 10 kali
ketika sedang ruku, kemudian
sujudlah dan bacalah do'a
tersebut 10 kali ketika sujud,
kemudian bangkitlah dari
sujud dan bacalah 10 kali
kemudian sujudlah dan
bacalah 10 kali kemudian
bangkitlah dari sujud dan
bacalah 10 kali. Itulah 75 kali
dalam setiap rakaat, dan
lakukanlah hal tersebut pada
empat rakaat. Jika engkau
sanggup untuk melakukannya
satu kali dalam setiap hari,
maka lakukanlah, jika tidak,
maka lakukanlah satu kali
seminggu, jika tidak maka
lakukanlah sebulan sekali, jika
tidak maka lakukanlah sekali
dalam setahun dan jika tidak
maka lakukanlah sekali dalam
seumur hidupmu" (HR Abu
Daud 2/67-68)
Ibnu Ma'in. An-Nasaiy berkata:
Ia tidak apa-apa. Az-Zarkasyi
berpendapat: "Hadis shahih
dan bukan dhaif". Ibnu As-
Sholah: "Haditsnya adalah
Hasan"
Kedua: Sholat tasbih boleh
dilaksanakan (boleh tapi
tidak disunnahkan).
Pendapat ini dikemukakan
oleh ulama penganut Mazhab
Hambali. Mereka berkata:
"Tidak ada hadits yang tsabit
(kuat) dan sholat tersebut
termasuk Fadhoilul A'maal,
maka cukup berlandaskan
hadits dhaif."
Ibnu Qudamah berkata: "Jika
ada orang yang melakukannya
maka hal tersebut tidak
mengapa, karena shalat
nawafil dan Fadhoilul A'maal
tidak disyaratkan harus
dengan berlandaskan hadits
shahih" (Al-Mughny 2/123)
Ketiga: Sholat tersebut tidak
disyariatkan.
Imam Nawawi dalam Al-
Majmu' berkata: "Perlu diteliti
kembali tentang kesunahan
pelaksanaan sholat tasbih
karena haditsnya dhoif, dan
adanya perubahan susunan
shalat dalam shalat tasbih
yang berbeda dengan shalat
biasa. Dan hal tersebut
hendaklah tidak dilakukan
kalau tidak ada hadits yang
menjelaskannya. Dan hadits
yang menjelaskan shalat
tasbih tidak kuat".
Ibnu Qudamah menukil
riwayat dari Imam Ahmad
bahwa tidak ada hadis shahih
yang menjelaskan hal
tersebut. Ibnuljauzi
mengatakan bahwa hadits-
hadits yang berkaitan dengan
shalat tasbih termasuk
maudhu`. Ibnu Hajar berkata
dalam At-Talkhis bahwa yang
benar adalah seluruh riwayat
hadits adalah dhaif meskipun
hadits Ibnu Abbas mendekati
syarat hasan, akan tetapi
hadits itu syadz karena hanya
diriwayatkan oleh satu orang
rawi dan tidak ada hadits lain
yang menguatkannya. Dan
juga shalat tasbih berbeda
gerakannya dengan shalat-
shalat yang lain.
Dalam kitab-kitab fiqih
mazhab Hanafiyah dan
Malikiyah tidak pernah
disebutkan perihal shalat
tasbih ini kecuali dalam
Talkhis Al-Habir dari Ibnul
Arabi bahwa beliau
berpendapat tidak ada hadits
shahih maupun hasan yang
menjelaskan tentang shalat
tasbih ini.

Hukum Nisfu Sya'ban


Nisfu Sya’ban berarti
pertengahan bulan sya’ban.
Adapun didalam sejarah kaum
muslimin ada yang
berpendapat bahwa pada saat
itu terjadi pemindahan kiblat
kaum muslimin dari baitul
maqdis kearah masjidil haram,
seperti yang diungkapkan Al
Qurthubi didalam menafsirkan
firman Allah swt :
ُلوُقَيَس
ءاَهَفُّسلا َنِم
ِساَّنلا اَم ْمُهَّالَو
نَع ُمِهِتَلْبِق
يِتَّلا ْاوُناَك
اَهْيَلَع لُق ِهّلِّل
ُقِرْشَمْلا
ُبِرْغَمْلاَو يِدْهَي
نَم ءاَشَي ىَلِإ
ٍطاَرِص
ٍميِقَتْسُّم
Artinya : “Orang-orang yang
kurang akalnya diantara
manusia akan berkata:
"Apakah yang memalingkan
mereka (umat Islam) dari
kiblatnya (Baitul Maqdis) yang
dahulu mereka Telah
berkiblat kepadanya?"
Katakanlah: "Kepunyaan
Allah-lah timur dan barat; dia
memberi petunjuk kepada
siapa yang dikehendaki-Nya
ke jalan yang lurus". (QS. Al
Baqoroh : 142)
Al Qurthubi mengatakan
bahwa telah terjadi perbedaan
waktu tentang pemindahan
kiblat setelah kedatangannya
saw ke Madinah. Ada yang
mengatakan bahwa
pemindahan itu terjadi setelah
16 atau 17 bulan, sebagaimana
disebutkan didalam (shahih)
Bukhori. Sedangkan
Daruquthni meriwayatkan dari
al Barro yang
mengatakan,”Kami
melaksanakan shalat bersama
Rasulullah saw setelah
kedatangannya ke Madinah
selama 16 bulan menghadap
Baitul Maqdis, lalu Allah swt
mengetahui keinginan nabi-
Nya, maka turunlah firman-
Nya, ”Sungguh kami (sering)
melihat mukamu menengadah
ke langit. ”. Didalam riwayat
ini disebutkan 16 bulan, tanpa
ada keraguan tentangnya.
Imam Malik meriwayatkan
dari Yahya bin Said dari Said
bin al Musayyib bahwa
pemindahan itu terjadi dua
bulan sebelum peperangan
badar. Ibrahim bin Ishaq
mengatakan bahwa itu terjadi
di bulan Rajab tahun ke-2 H.
Abu Hatim al Bistiy
mengatakan bahwa kaum
muslimin melaksanakan shalat
menghadap Baitul Maqdis
selama 17 bulan 3 hari.
Kedatangan Rasul saw ke
Madinah adalah pada hari
senin, di malam ke 12 dari
bulan Rabi ’ul Awal. Lalu Allah
swt memerintahkannya untuk
menghadap ke arah ka ’bah
pada hari selasa di
pertengahan bulan sya’ban.
(Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an
jilid I hal 554)
Kemudian apakah Nabi saw
melakukan ibadah-ibadah
tertentu didalam malam nisfu
sya ’ban ? terdapat riwayat
bahwa Rasulullah saw banyak
melakukan puasa didalam
bulan sya ’ban, seperti yang
diriwayatkan oleh Bukhori
Muslim dari Aisyah
berkata, ”Tidaklah aku melihat
Rasulullah saw
menyempurnakan puasa satu
bulan kecuali bulan
Ramadhan. Dan aku
menyaksikan bulan yang
paling banyak beliau saw
berpuasa (selain ramadhan,
pen) adalah sya ’ban. Beliau
saw berpuasa (selama) bulan
sya ’ban kecuali hanya sedikit
(hari saja yang beliau tidak
berpuasa, pen). ”
Adapun shalat malam maka
sessungguhnya Rasulullah saw
banyak melakukannya pada
setiap bulan. Shalat malamnya
pada pertengahan bulan sama
dengan shalat malamnya pada
malam-malam lainnya. Hal ini
diperkuat oleh hadits yang
diriwayatkan oleh Ibnu Majah
didalam Sunannya dengan
sanad yang lemah, ”Apabila
malam nisfu sya’ban maka
shalatlah di malam harinya
dan berpuasalah di siang
harinya.
Sesungguhnya Allah swt turun
hingga langit dunia pada saat
tenggelam matahari dan
mengatakan, ”Ketahuilah
wahai orang yang memohon
ampunan maka Aku telah
mengampuninya. Ketahuilah
wahai orang yang meminta
rezeki Aku berikan rezeki,
ketahuilah wahai orang yang
sedang terkena musibah maka
Aku selamatkan, ketahuilah
ini ketahuilah itu hingga terbit
fajar. ”
Syeikh ‘Athiyah Saqar
mengatakan,”Walaupun
hadits-hadits itu lemah namun
bisa dipakai dalam hal
keutamaan amal. ” Itu semua
dilakukan dengan sendiri-
sendiri dan tidak dilakukan
secara berjama ’ah (bersama-
sama).
Al Qasthalani menyebutkan
didalam kitabnya “al Mawahib
Liddiniyah” juz II hal 259
bahwa para tabi’in dari ahli
Syam, seperti Khalid bin
Ma ’dan dan Makhul
bersungguh-sungguh dengan
ibadah pada malam nisfu
sya ’ban. Manusia kemudian
mengikuti mereka dalam
mengagungkan malam itu.
Disebutkan pula bahwa yang
sampai kepada mereka adalah
berita-berita israiliyat. Tatkala
hal ini tersebar maka
terjadilah perselisihan di
masyarakat dan diantara
mereka ada yang
menerimanya.
Ada juga para ulama yang
mengingkari, yaitu para ulama
dari Hijaz, seperti Atho ’, Ibnu
Abi Malikah serta para fuqoha
Ahli Madinah sebagaimana
dinukil dari Abdurrahman bin
Zaid bin Aslam, ini adalah
pendapat para ulama Maliki
dan yang lainnya, mereka
mengatakan bahwa hal itu
adalah bid ’ah.
Kemudian al Qasthalani
mengatakan bahwa para
ulama Syam telah berselisih
tentang menghidupkan malam
itu kedalam dua pendapat.
Pertama : Dianjurkan untuk
menghidupkan malam itu
dengan berjama ’ah di masjid.
Khalid bin Ma’dan, Luqman bin
‘Amir dan yang lainnya
mengenakan pakaian
terbaiknya, menggunakan
wangi-wangian dan
menghidupkan malamnya di
masjid. Hal ini disetujui oleh
Ishaq bin Rohawaih. Dia
mengatakan bahwa
menghidupkan malam itu di
masjid dengan cara
berjama ’ah tidaklah bid’ah,
dinukil dari Harab al Karmaniy
didalam kitab Masa ’ilnya.
Kedua : Dimakruhkan
berkumpul di masjid untuk
melaksanakan shalat, berdoa
akan tetapi tidak dimakruhkan
apabila seseorang
melaksanakan shalat
sendirian, ini adalah pendapat
al Auza ’i seorang imam dan
orang faqih dari Ahli Syam.
Tidak diketahui pendapat
Imam Ahmad tentang malam
nisfu sya ’ban ini, terdapat dua
riwayat darinya tentang
anjuran melakukan shalat
pada malam itu. Dua riwayat
itu adalah tentang melakukan
shalat di dua malam hari raya.
Satu riwayat tidak
menganjurkan untuk
melakukannya dengan
berjama ’ah. Hal itu
dikarenakan tidaklah berasal
dari Nabi saw maupun para
sahabatnya. Dan satu riwayat
yang menganjurkannya
berdasarkan perbuatan
Abdurrahman bin Zaid al
Aswad dan dia dari kalangan
tabi ’in.
Demikian pula didalam
melakukan shalat dimalam
nisfu sya ’ban tidaklah sedikit
pun berasal dari Nabi saw
maupun para sahabatnya.
Perbuatan ini berasal dari
sekelompok tabi ’in khususnya
para fuqaha Ahli Syam.
(Fatawa al Azhar juz X hal 31)
Sementara itu al Hafizh ibnu
Rajab mengatakan bahwa
perkataan ini adalah aneh dan
lemah karena segala sesuatu
yang tidak berasal dari dalil-
dalil syar ’i yang menyatakan
bahwa hal itu disyariatkan
maka tidak diperbolehkan
bagi seorang muslim untuk
menceritakannya didalam
agama Allah baik dilakukan
sendirian maupun berjama ’ah,
sembunyi-sembunyi maupun
terang-terangan berdasarkan
keumuman sabda Rasulullah
saw, ”Barangsiapa yang
mengamalkan suatu amal
yang tidak kami perintahkan
maka ia tertolak. ” Juga dalil-
dalil lain yang menunjukkan
pelarangan bid ’ah dan
meminta agar waspada
terhadapnya.
Didalam kitab “al Mausu’ah al
Fiqhiyah” juz II hal 254
disebutkan bahwa jumhur
ulama memakruhkan
berkumpul untuk
menghidupkan malam nisfu
sya ’ban, ini adalah pendapat
para ulama Hanafi dan Maliki.
Dan mereka menegaskan
bahwa berkumpul untuk itu
adalah sautu perbuatan bid ’ah
menurut para imam yang
melarangnya, yaitu ‘Atho bin
Abi Robah dan Ibnu Malikah.
Sementara itu al Auza’i
berpendapat berkumpul di
masjid-masjid untuk
melaksanakan shalat
(menghidupkan malam nisfu
sya ’ban, pen) adalah makruh
karena menghidupkan malam
itu tidaklah berasal dari Rasul
saw dan tidak juga dilakukan
oleh seorang pun dari
sahabatnya.
Sementara itu Khalid bin
Ma ’dan dan Luqman bin ‘Amir
serta Ishaq bin Rohawaih
menganjurkan untuk
menghidupkan malam itu
dengan berjama ’ah.”
Dengan demikian
diperbolehkan bagi seorang
muslim untuk menghidupkan
malam nisfu sya ’ban dengan
berbagai bentuk ibadah
seperti shalat, berdzikir
maupun berdoa kepada Allah
swt yang dilakukan secara
sendiri-sendiri. Adapun apabila
hal itu dilakukan dengan
brjama’ah maka telah terjadi
perselisihan dikalangan para
ulama seperti penjelasan
diatas.
Hendaklah ketika seseorang
menghidupkan malam nisfu
sya ’ban dengan ibadah-ibadah
diatas tetap semata-mata
karena Allah dan tidak
melakukannya dengan cara-
cara yang tidak diperintahkan
oleh Rasul-Nya saw. Janganlah
seseorang melakukan shalat
dimalam itu dengan niat
panjang umur, bertambah
rezeki dan yang lainnya
karena hal ini tidak ada
dasarnya akan tetapi
niatkanlah semata-mata
karena Allah dan untuk
mendekatkan diri kepada-Nya.
Begitu pula dengan dzikir-
dzikir dan doa-doa yang
dipanjatkan hendaklah tidak
bertentangan dengan dalil-
dalil shahih didalam aqidah
dan hukum.
Dan hendaklah setiap muslim
menyikapi permasalahan ini
dengan bijak tanpa harus
menentang atau bahkan
menyalahkan pendapat yang
lainnya karena bagaimanapun
permasalahan ini masih
diperselisihkan oleh para
ulama meskipun hanya
dilakukan oleh para tabi ’in.
Wallahu A’lam

Shalat tasbih dan shalat sya'ban itu bid'ah?


Pertanyaan :
Apakah
Shalat
tasbih
dan
shalat
nisfu
sya ’ban
itu
bid’ah ?
Jawaban
dari
Habib
Munzir
Al Musawwa
Alaikumsalam warahmatullah
wabarakatuh,
kebahagiaan dan Kesejukan
Rahmat Nya semoga selalu
menaungi hari hari anda dg
kebahagiaan,
Saudaraku yg kumuliakan,
Mengenai shalat tasbih,
riwayatnya adalah berkata
Rasulullah saw kepada Abbas
ra : “Wahai Abbas, wahai
pamanku, maukah kau
kuberi?, maukah kau
termuliakan?, maukah kau
kuajari keluhuran..?, maka
perbuatlah 10 hal, yg jika kau
kerjakan maka Allah akan
mengampuni dosamu yg
pertama dan terakhir, dosa yg
terdahulu dan yg baru, yg
sengaja dan tak sengaja, yg
besar dan yg kecil, yg
tersembunyi dan yg terang
terangan, 10 bagian yaitu kau
shalat 4 rakaat, dan kau
membaca pada setiap rakaat
surat Fatihah dan surat
lainnya,jika selesai dari
bacaannya maka bacalah
Subhanallah walhamdulilllah
walaa ilaha illallah wallahu
akbar 15X, lalu ……(demikian
Rasul saw meneruskan bacaan
shalat tasbih sebagaimana
kita ketahui).. maka jadilah
setiaprakaat 75X dzikir itu,
lakukan demikian 4 rakaat,
maka lakukanlah jika mampu
akan hal itu setiap hari, jika
tidak maka setiap jumat
sekali, jika tidak maka setiap
bulan sekali,jika tidak maka
setahun sekali, jika tidak
maka seumur hidupmu sekali
(HR Sunan Abi Dawud bab
shalat tasbih, Mustadrak ala
shahihain Bab Shalat
Tattawwu ’, Fathul Baari
Bisyarah Shahih Bukhari Bab
Fadhl Attasbih, dll).
Mengenai shalat nisfu sya ’ban
saya belum menemukan
riwayatnya yg shahih dan
tsigah, namun kita lebih
percaya pada parea Kyai kita
daripada mereka yg dangkal
dalam ilmu hadits
jikapun hal itu bid’ah, maka
tentunya Bid’ah hasanah,
Shalat sunnah boleh
dil;akukan kapan saja, maka
jika memperbanyak ibadah di
malam nisfu sya ’ban dengan
memperbanyak shalat,
apakah salahnya?
salahkan orang
memperbanyak sujud dimalam
itu?
sebagaimana riwayat shahih
ketika Imam Masjid Quba
mengada ada dengan
membaca surat alikhlas pada
setiap rakaat setelah fatihah
baru kemudian surat lainnya,
maka makmumnya
memprotesnya, kenapa surat
al ikhlas disederajatkan dg
fatihah??
maka imam itu keras kepala
dan tak mau merubahnya,
kabar disampaikan pada Rasul
saw, dan Rasul saw
memanggilnya dan
menanyakannya, maka Imam
Masjid Quba menjawab tanpa
dalil, seraya berkata : “Aku
mencintai surat Al Ikhlas..,
maka Rasul saw bersabda :
cintamu pada surat al ikhlas
akan membuatmu masuk
sorga ” (Shahih Bukhari).
jelas sudah, Rasul saw tak
menyalahkan orang yg
membuat buat suatu hal yg
beliau saw tak ajarkan,
selama hal itu baiik, berikut
masalah Bid ’ah hasanah :
BID’AH
1. Nabi saw memperbolehkan
berbuat bid ’ah hasanah.
Nabi saw memperbolehkan
kita melakukan Bid ’ah
hasanah selama hal itu baik
dan tidak menentang syariah,
sebagaimana sabda beliau
saw : “Barangsiapa membuat
buat hal baru yg baik dalam
islam, maka baginya
pahalanya dan pahala orang
yg mengikutinya dan tak
berkurang sedikitpun dari
pahalanya, dan barangsiapa
membuat buat hal baru yg
buruk dalam islam, maka
baginya dosanya dan dosa
orang yg mengikutinya dan
tak dikurangkan sedikitpun
dari dosanya ” (Shahih Muslim
hadits no.1017, demikian pula
diriwayatkan pada Shahih Ibn
Khuzaimah, Sunan Baihaqi
Alkubra, Sunan Addarimiy,
Shahih Ibn Hibban dan banyak
lagi). Hadits ini menjelaskan
makna Bid’ah hasanah dan
Bid;ah dhalalah.
Perhatikan hadits beliau saw,
bukankah beliau saw
menganjurkan?, maksudnya
bila kalian mempunyai suatu
pendapat atau gagasan baru
yg membuat kebaikan atas
islam maka perbuatlah..,
alangkah indahnya bimbingan
Nabi saw yg tidak mencekik
ummat, beliau saw tahu
bahwa ummatnya bukan hidup
untuk 10 atau 100 tahun, tapi
ribuan tahun akan berlanjut
dan akan muncul kemajuan
zaman, modernisasi, kematian
ulama, merajalela
kemaksiatan, maka tentunya
pastilah diperlukan hal hal yg
baru demi menjaga muslimin
lebih terjaga dalam
kemuliaan, demikianlah
bentuk kesempurnaan agama
ini, yg tetap akan bisa dipakai
hingga akhir zaman, inilah
makna ayat : “ALYAUMA
AKMALTU LAKUM
DIINUKUM..dst, “hari ini
Kusempurnakan untuk kalian
agama kalian, kusempurnakan
pula kenikmatan bagi kalian,
dan kuridhoi islam sebagai
agama kalian ”, maksudnya
semua ajaran telah sempurna,
tak perlu lagi ada pendapat
lain demi memperbaiki agama
ini, semua hal yg baru selama
itu baik sudah masuk dalam
kategori syariah dan sudah
direstui oleh Allah dan rasul
Nya, alangkah sempurnanya
islam,
bila yg dimaksud adalah tidak
ada lagi penambahan, maka
pendapat itu salah, karena
setelah ayat ini masih ada
banyak ayat ayat lain turun,
masalah hutang dll, berkata
para Mufassirin bahwa ayat ini
bermakna Makkah
Almukarramah sebelumnya
selalu masih dimasuki orang
musyrik mengikuti hajinya
orang muslim, mulai kejadian
turunnya ayat ini maka
Musyrikin tidak lagi masuk
masjidil haram, maka
membuat kebiasaan baru yg
baik boleh boleh saja.
namun tentunya bukan
membuat agama baru atau
syariat baru yg bertentangan
dg syariah dan sunnah Rasul
saw, atau menghalalkan apa
apa yg sudah diharamkan oleh
Rasul saw atau sebaliknya,
inilah makna hadits beliau
saw : “Barangsiapa yg
membuat buat hal baru yg
berupa keburukan …dst”,
inilah yg disebut Bid’ah
Dhalalah.
Beliau saw telah memahami
itu semua, bahwa kelak
zaman akan berkembang,
maka beliau saw
memperbolehkannya (hal yg
baru berupa kebaikan),
menganjurkannya dan
menyemangati kita untuk
memperbuatnya, agar ummat
tidak tercekik dg hal yg ada
dizaman kehidupan beliau saw
saja, dan beliau saw telah
pula mengingatkan agar
jangan membuat buat hal yg
buruk (Bid ’ah dhalalah).
Mengenai pendapat yg
mengatakan bahwa hadits ini
adalah khusus untuk sedekah
saja, maka tentu ini adalah
pendapat mereka yg dangkal
dalam pemahaman syariah,
karena hadits diatas jelas jelas
tak menyebutkan pembatasan
hanya untuk sedekah saja,
terbukti dengan perbuatan
bid ’ah hasanah oleh para
Sahabat dan Tabi’in.
2. Siapakah yg pertama
memulai Bid ’ah hasanah
setelah wafatnya Rasul saw?
Ketika terjadi pembunuhan
besar besaran atas para
sahabat (Ahlul yamaamah) yg
mereka itu para Huffadh (yg
hafal) Alqur ’an dan Ahli
Alqur’an di zaman Khalifah
Abubakar Asshiddiq ra,
berkata Abubakar Ashiddiq ra
kepada Zeyd bin Tsabit ra :
“ Sungguh Umar (ra) telah
datang kepadaku dan
melaporkan pembunuhan atas
ahlulyamaamah dan
ditakutkan pembunuhan akan
terus terjadi pada para
Ahlulqur ’an, lalu ia
menyarankan agar Aku
(Abubakar Asshiddiq ra)
mengumpulkan dan menulis
Alqur ’an, aku berkata :
Bagaimana aku berbuat suatu
hal yg tidak diperbuat oleh
Rasulullah..??, maka Umar
berkata padaku bahwa Demi
Allah ini adalah demi
kebaikan dan merupakan
kebaikan, dan ia terus
meyakinkanku sampai Allah
menjernihkan dadaku dan aku
setuju dan kini aku
sependapat dg Umar, dan
engkau (zeyd) adalah pemuda,
cerdas, dan kami tak
menuduhmu (kau tak pernah
berbuat jahat), kau telah
mencatat wahyu, dan
sekarang ikutilah dan
kumpulkanlah Alqur ’an dan
tulislah Alqur’an..!” berkata
Zeyd : “Demi Allah sungguh
bagiku diperintah
memindahkan sebuah gunung
daripada gunung gunung tidak
seberat perintahmu padaku
untuk mengumpulkan
Alqur ’an, bagaimana kalian
berdua berbuat sesuatu yg tak
diperbuat oleh Rasulullah
saw ??”, maka Abubakar ra
mengatakannya bahwa hal itu
adalah kebaikan, hingga iapun
meyakinkanku sampai Allah
menjernihkan dadaku dan aku
setuju dan kini aku
sependapat dg mereka berdua
dan aku mulai mengumpulkan
Alqur ’an”. (Shahih Bukhari
hadits no.4402 dan 6768).
Nah saudaraku, bila kita
perhatikan konteks diatas
Abubakar shiddiq ra mengakui
dengan ucapannya : “sampai
Allah menjernihkan dadaku
dan aku setuju dan kini aku
sependapat dg Umar ”, hatinya
jernih menerima hal yg baru
(bid ’ah hasanah) yaitu
mengumpulkan Alqur’an,
karena sebelumnya alqur’an
belum dikumpulkan menjadi
satu buku, tapi terpisah pisah
di hafalan sahabat, ada yg
tertulis di kulit onta, di
tembok, dihafal dll, ini adalah
Bid ’ah hasanah, justru mereka
berdualah yg memulainya.
Kita perhatikan hadits yg
dijadikan dalil menafikan
(menghilangkan) Bid ’ah
hasanah mengenai semua
bid ’ah adalah kesesatan,
diriwayatkan bahwa Rasul saw
selepas melakukan shalat
subuh beliau saw menghadap
kami dan menyampaikan
ceramah yg membuat hati
berguncang, dan membuat
airmata mengalir.., maka
kami berkata : “Wahai
Rasulullah.. seakan akan ini
adalah wasiat untuk
perpisahan …, maka beri
wasiatlah kami..” maka rasul
saw bersabda : “Kuwasiatkan
kalian untuk bertakwa kepada
Allah, mendengarkan dan
taatlah walaupun kalian
dipimpin oleh seorang Budak
afrika, sungguh diantara
kalian yg berumur panjang
akan melihat sangat banyak
ikhtilaf perbedaan pendapat,
maka berpegang teguhlah
pada sunnahku dan sunnah
khulafa ’urrasyidin yg mereka
itu pembawa petunjuk,
gigitlah kuat kuat dg geraham
kalian (suatu kiasan untuk
kesungguhan), dan hati
hatilah dengan hal hal yg
baru, sungguh semua yg
Bid;ah itu adalah kesesatan”.
(Mustadrak Alasshahihain
hadits no.329).
Jelaslah bahwa Rasul saw
menjelaskan pada kita untuk
mengikuti sunnah beliau dan
sunnah khulafa ’urrasyidin, dan
sunnah beliau saw telah
memperbolehkan hal yg baru
selama itu baik dan tak
melanggar syariah, dan
sunnah khulafa ’urrasyidin
adalah anda lihat sendiri
bagaimana Abubakar shiddiq
ra dan Umar bin Khattab ra
menyetujui bahkan
menganjurkan, bahkan
memerintahkan hal yg baru,
yg tidak dilakukan oleh Rasul
saw yaitu pembukuan
Alqur ’an, lalu pula selesai
penulisannya dimasa Khalifah
Utsman bin Affan ra, dg
persetujuan dan kehadiran Ali
bin Abi Thalib kw.
Nah.. sempurnalah sudah
keempat makhluk termulia di
ummat ini, khulafa’urrasyidin
melakukan bid’ah hasanah,
Abubakar shiddiq ra dimasa
kekhalifahannya
memerintahkan pengumpulan
Alqur ’an, lalu kemudian Umar
bin Khattab ra pula dimasa
kekhalifahannya
memerintahkan tarawih
berjamaah dan seraya
berkata : “Inilah sebaik baik
Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits
no.1906) lalu pula selesai
penulisan Alqur ’an dimasa
Khalifah Utsman bin Affan ra
hingga Alqur ’an kini dikenal
dg nama Mushaf Utsmaniy,
dan Ali bin Abi Thalib kw
menghadiri dan menyetujui
hal itu.
Demikian pula hal yg dibuat-
buat tanpa perintah Rasul saw
adalah dua kali adzan di
Shalat Jumat, tidak pernah
dilakukan dimasa Rasul saw,
tidak dimasa Khalifah
Abubakar shiddiq ra, tidak
pula dimasa Umar bin khattab
ra dan baru dilakukan dimasa
Utsman bn Affan ra, dan
diteruskan hingga kini (Shahih
Bulkhari hadits no.873).
Siapakah yg salah dan
tertuduh?, siapakah yg lebih
mengerti larangan Bid’ah?,
adakah pendapat mengatakan
bahwa keempat
Khulafa ’urrasyidin ini tak
faham makna Bid’ah?
3. Bid’ah Dhalalah
Jelaslah sudah bahwa mereka
yg menolak bid ’ah hasanah
inilah yg termasuk pada
golongan Bid ’ah dhalalah, dan
Bid’ah dhalalah ini banyak
jenisnya, seperti penafian
sunnah, penolakan ucapan
sahabat, penolakan pendapat
Khulafa ’urrasyidin, nah…
diantaranya adalah penolakan
atas hal baru selama itu baik
dan tak melanggar syariah,
karena hal ini sudah
diperbolehkan oleh Rasul saw
dan dilakukan oleh
Khulafa’urrasyidin, dan Rasul
saw telah jelas jelas
memberitahukan bahwa akan
muncul banyak ikhtilaf,
berpeganglah pada Sunnahku
dan Sunnah
Khulafa ’urrasyidin, bagaimana
Sunnah Rasul saw?, beliau saw
membolehkan Bid ’ah hasanah,
bagaimana sunnah
Khulafa ’urrasyidin?, mereka
melakukan Bid’ah hasanah,
maka penolakan atas hal
inilah yg merupakan Bid ’ah
dhalalah, hal yg telah
diperingatkan oleh Rasul saw.
Bila kita menafikan
(meniadakan) adanya Bid ’ah
hasanah, maka kita telah
menafikan dan membid ’ahkan
Kitab Al-Quran dan Kitab
Hadits yang menjadi panduan
ajaran pokok Agama Islam
karena kedua kitab tersebut
(Al-Quran dan Hadits) tidak
ada perintah Rasulullah saw
untuk membukukannya dalam
satu kitab masing-masing,
melainkan hal itu merupakan
ijma/kesepakatan pendapat
para Sahabat
Radhiyallahu ’anhum dan hal
ini dilakukan setelah
Rasulullah saw wafat.
Buku hadits seperti Shahih
Bukhari, shahih Muslim dll
inipun tak pernah ada
perintah Rasul saw untuk
membukukannya, tak pula
Khulafa ’urrasyidin
memerintahkan menulisnya,
namun para tabi ’in mulai
menulis hadits Rasul saw.
Begitu pula Ilmu
Musthalahulhadits, Nahwu,
sharaf, dan lain-lain sehingga
kita dapat memahami
kedudukan derajat hadits, ini
semua adalah perbuatan
Bid ’ah namun Bid’ah Hasanah.
Demikian pula ucapan
“ Radhiyallahu’anhu” atas
sahabat, tidak pernah
diajarkan oleh Rasulullah saw,
tidak pula oleh sahabat,
walaupun itu di sebut dalam
Al-Quran bahwa mereka para
sahabat itu diridhoi Allah,
namun tak ada dalam Ayat
atau hadits Rasul saw
memerintahkan untuk
mengucapkan ucapan itu
untuk sahabatnya, namun
karena kecintaan para Tabi’in
pada Sahabat, maka mereka
menambahinya dengan
ucapan tersebut.
Dan ini merupakan Bid ’ah
Hasanah dengan dalil Hadits di
atas, Lalu muncul pula kini Al-
Quran yang di kasetkan, di CD
kan, Program Al-Quran di
handphone, Al-Quran yang
diterjemahkan, ini semua
adalah Bid’ah hasanah.
Bid’ah yang baik yang
berfaedah dan untuk tujuan
kemaslahatan muslimin,
karena dengan adanya Bid ’ah
hasanah di atas maka semakin
mudah bagi kita untuk
mempelajari Al-Quran, untuk
selalu membaca Al-Quran,
bahkan untuk menghafal Al-
Quran dan tidak ada yang
memungkirinya.
Sekarang kalau kita menarik
mundur kebelakang sejarah
Islam, bila Al-Quran tidak
dibukukan oleh para Sahabat
ra, apa sekiranya yang terjadi
pada perkembangan sejarah
Islam ?
Al-Quran masih bertebaran di
tembok-tembok, di kulit onta,
hafalan para Sahabat ra yang
hanya sebagian dituliskan,
maka akan muncul beribu-ribu
Versi Al-Quran di zaman
sekarang, karena semua
orang akan mengumpulkan
dan membukukannya, yang
masing-masing dengan
riwayatnya sendiri, maka
hancurlah Al-Quran dan
hancurlah Islam. Namun
dengan adanya Bid ’ah
Hasanah, sekarang kita masih
mengenal Al-Quran secara
utuh dan dengan adanya
Bid ’ah Hasanah ini pula kita
masih mengenal Hadits-hadits
Rasulullah saw, maka jadilah
Islam ini kokoh dan Abadi,
jelaslah sudah sabda Rasul
saw yg telah
membolehkannya, beliau saw
telah mengetahui dg jelas
bahwa hal hal baru yg berupa
kebaikan (Bid ’ah hasanah),
mesti dimunculkan kelak, dan
beliau saw telah melarang hal
hal baru yg berupa keburukan
(Bid ’ah dhalalah).
Saudara saudaraku, jernihkan
hatimu menerima ini semua,
ingatlah ucapan
Amirulmukminin pertama ini,
ketahuilah ucapan ucapannya
adalah Mutiara Alqur ’an,
sosok agung Abubakar
Ashiddiq ra berkata mengenai
Bid ’ah hasanah : “sampai
Allah menjernihkan dadaku
dan aku setuju dan kini aku
sependapat dg Umar ”.
Lalu berkata pula Zeyd bin
haritsah ra : ”..bagaimana
kalian berdua (Abubakar dan
Umar) berbuat sesuatu yg tak
diperbuat oleh Rasulullah
saw??, maka Abubakar ra
mengatakannya bahwa hal itu
adalah kebaikan, hingga iapun
(Abubakar ra) meyakinkanku
(Zeyd) sampai Allah
menjernihkan dadaku dan aku
setuju dan kini aku
sependapat dg mereka
berdua ”.
Maka kuhimbau saudara
saudaraku muslimin yg
kumuliakan, hati yg jernih
menerima hal hal baru yg baik
adalah hati yg sehati dg
Abubakar shiddiq ra, hati
Umar bin Khattab ra, hati
Zeyd bin haritsah ra, hati para
sahabat, yaitu hati yg
dijernihkan Allah swt,
Dan curigalah pada dirimu bila
kau temukan dirimu
mengingkari hal ini, maka
barangkali hatimu belum
dijernihkan Allah, karena tak
mau sependapat dg mereka,
belum setuju dg pendapat
mereka, masih menolak bid ’ah
hasanah, dan Rasul saw sudah
mengingatkanmu bahwa akan
terjadi banyak ikhtilaf, dan
peganglah perbuatanku dan
perbuatan khulafa ’urrasyidin,
gigit dg geraham yg
maksudnya berpeganglah erat
erat pada tuntunanku dan
tuntunan mereka.
Allah menjernihkan
sanubariku dan sanubari
kalian hingga sehati dan
sependapat dg Abubakar
Asshiddiq ra, Umar bin
Khattab ra, Utsman bin Affan
ra, Ali bin Abi Thalib kw dan
seluruh sahabat.. amiin
Pendapat para Imam dan
Muhadditsin mengenai Bid’ah
1. Al Hafidh Al Muhaddits Al
Imam Muhammad bin Idris
Assyafii rahimahullah (Imam
Syafii)
Berkata Imam Syafii bahwa
bid ’ah terbagi dua, yaitu
bid’ah mahmudah (terpuji) dan
bid’ah madzmumah (tercela),
maka yg sejalan dg sunnah
maka ia terpuji, dan yg tidak
selaras dengan sunnah adalah
tercela, beliau berdalil dg
ucapan Umar bin Khattab ra
mengenai shalat tarawih :
“inilah sebaik baik bid’ah”.
(Tafsir Imam Qurtubiy juz 2
hal 86-87)
2. Al Imam Al Hafidh
Muhammad bin Ahmad Al
Qurtubiy rahimahullah
“ Menanggapi ucapan ini
(ucapan Imam Syafii), maka
kukatakan (Imam Qurtubi
berkata) bahwa makna hadits
Nabi saw yg berbunyi :
“ seburuk buruk permasalahan
adalah hal yg baru, dan
semua Bid ’ah adalah
dhalalah” (wa syarrul umuuri
muhdatsaatuha wa kullu
bid ’atin dhalaalah), yg
dimaksud adalah hal hal yg
tidak sejalan dg Alqur ’an dan
Sunnah Rasul saw, atau
perbuatan Sahabat
radhiyallahu ‘anhum, sungguh
telah diperjelas mengenai hal
ini oleh hadits lainnya :
“ Barangsiapa membuat buat
hal baru yg baik dalam islam,
maka baginya pahalanya dan
pahala orang yg mengikutinya
dan tak berkurang sedikitpun
dari pahalanya, dan
barangsiapa membuat buat
hal baru yg buruk dalam
islam, maka baginya dosanya
dan dosa orang yg
mengikutinya ” (Shahih Muslim
hadits no.1017) dan hadits ini
merupakan inti penjelasan
mengenai bid ’ah yg baik dan
bid’ah yg sesat”. (Tafsir Imam
Qurtubiy juz 2 hal 87)
3. Al Muhaddits Al Hafidh Al
Imam Abu Zakariya Yahya bin
Syaraf Annawawiy
rahimahullah (Imam Nawawi)
“ Penjelasan mengenai hadits :
“Barangsiapa membuat buat
hal baru yg baik dalam islam,
maka baginya pahalanya dan
pahala orang yg mengikutinya
dan tak berkurang sedikitpun
dari pahalanya, dan
barangsiapa membuat buat
hal baru yg dosanya”, hadits
ini merupakan anjuran untuk
membuat kebiasaan kebiasaan
yg baik, dan ancaman untuk
membuat kebiasaan yg buruk,
dan pada hadits ini terdapat
pengecualian dari sabda
beliau saw : “semua yg baru
adalah Bid’ah, dan semua yg
Bid’ah adalah sesat”, sungguh
yg dimaksudkan adalah hal
baru yg buruk dan Bid ’ah yg
tercela”. (Syarh Annawawi
‘ala Shahih Muslim juz 7 hal
104-105)
Dan berkata pula Imam
Nawawi bahwa Ulama
membagi bid ’ah menjadi 5,
yaitu Bid’ah yg wajib, Bid’ah yg
mandub, bid’ah yg mubah,
bid’ah yg makruh dan bid’ah
yg haram.
Bid ’ah yg wajib contohnya
adalah mencantumkan dalil
dalil pada ucapan ucapan yg
menentang kemungkaran,
contoh bid ’ah yg mandub
(mendapat pahala bila
dilakukan dan tak mendapat
dosa bila ditinggalkan) adalah
membuat buku buku ilmu
syariah, membangun majelis
taklim dan pesantren, dan
Bid;ah yg Mubah adalah
bermacam macam dari jenis
makanan, dan Bid ’ah makruh
dan haram sudah jelas
diketahui, demikianlah makna
pengecualian dan kekhususan
dari makna yg umum,
sebagaimana ucapan Umar ra
atas jamaah tarawih bahwa
inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh
Imam Nawawi ala shahih
Muslim Juz 6 hal 154-155)
Al Hafidh AL Muhaddits Al
Imam Jalaluddin Abdurrahman
Assuyuthiy rahimahullah
Mengenai hadits “Bid’ah
Dhalalah” ini bermakna
“Aammun makhsush”,
(sesuatu yg umum yg ada
pengecualiannya), seperti
firman Allah : “… yg
Menghancurkan segala
sesuatu ” (QS Al Ahqaf 25) dan
kenyataannya tidak segalanya
hancur, (*atau pula ayat :
“ Sungguh telah kupastikan
ketentuanku untuk memenuhi
jahannam dengan jin dan
manusia keseluruhannya ” QS
Assajdah-13), dan pada
kenyataannya bukan semua
manusia masuk neraka, tapi
ayat itu bukan bermakna
keseluruhan tapi bermakna
seluruh musyrikin dan orang
dhalim.pen) atau hadits : “aku
dan hari kiamat bagaikan
kedua jari ini ” (dan
kenyataannya kiamat masih
ribuan tahun setelah wafatnya
Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy
Juz 3 hal 189).
MOTEKAR-LIFE™ © 2008 Template by:
SkinCorner